Yesim Yuksel
18 Agustus 2026•Update: 18 Agustus 2026
Penguatan fenomena El Nino berpotensi mendorong kenaikan suhu global dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi tersebut dapat semakin memperbesar risiko regional jika terjadi bersamaan dengan fenomena positif Indian Ocean Dipole (IOD), kata ilmuwan iklim Turki Levent Kurnaz.
“Akan terjadi lonjakan suhu rata-rata di seluruh dunia. Ketika kontribusi jangka pendek El Nino ditambahkan pada sistem yang sudah mengalami pemanasan, kita kemungkinan akan melihat bulan-bulan dengan suhu yang kembali memecahkan rekor,” kata Kurnaz, Direktur Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan Universitas Bogazici.
El Nino merupakan pola iklim yang terjadi secara berkala dan ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tropis Samudra Pasifik. Fenomena ini dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia.
Sementara itu, IOD positif merupakan pola interaksi laut dan atmosfer yang ditandai oleh suhu perairan Samudra Hindia bagian barat yang lebih hangat dari normal, sementara wilayah timurnya cenderung lebih dingin.
Berdasarkan data International Research Institute for Climate and Society di Columbia University, suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4, salah satu kawasan utama untuk memantau El Nino, baru-baru ini tercatat 2,1 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang. Angka tersebut meningkat dari anomali 0,98 derajat pada April-Mei dan 1,55 derajat pada Juni.
Kurnaz mengatakan anomali suhu 2 derajat Celsius atau lebih umumnya dikategorikan sebagai El Nino yang sangat kuat. Menurutnya, prakiraan untuk periode Agustus-Oktober menunjukkan fenomena tersebut berpotensi memiliki kekuatan yang sebanding dengan El Nino besar pada 1997-1998 dan 2015-2016.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino akan menjadi salah satu faktor dominan yang memengaruhi iklim global pada periode Agustus-Oktober. Kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya suhu di atas normal di sebagian besar wilayah dunia serta perubahan pola curah hujan.
Risiko Kekeringan dan Banjir
Kurnaz mengatakan dampak El Nino dapat mencakup peningkatan risiko kekeringan di Indonesia, Australia bagian timur, dan Afrika bagian selatan. Sementara itu, wilayah Pasifik timur dan Amerika Selatan bagian barat berpotensi mengalami curah hujan lebih tinggi dan banjir.
Ia juga mengatakan El Nino biasanya menekan aktivitas badai tropis di Samudra Atlantik.
Menurut Kurnaz, perkembangan IOD positif secara bersamaan dapat memperkuat sejumlah dampak tersebut.
“Fakta bahwa IOD positif terjadi pada periode yang sama menciptakan tumpang tindih yang membuat dampak kedua sistem tersebut saling memperkuat. Kondisi ini dapat menjadi dasar munculnya risiko regional yang lebih parah dibandingkan periode sebelumnya,” ujarnya.
Kurnaz menambahkan perubahan iklim juga menjadi faktor penting. Kenaikan suhu global telah menciptakan kondisi dasar yang lebih panas sehingga dampak El Nino terhadap suhu dapat menjadi lebih ekstrem.
Untuk Türkiye, Kurnaz memperkirakan El Nino tidak akan menyebabkan perubahan ekstrem pada curah hujan. Namun, fenomena tersebut dapat berkontribusi terhadap anomali suhu yang terus berlangsung dan memperpanjang periode risiko kebakaran hutan yang tinggi, terutama di wilayah Mediterania.