Emin Avundukluoglu
Ankara
Presiden Recep Tayyip Erdogan mendorong kaum muslim untuk memainkan peranannya dalam melindungi Masjid al-Aqsa.
Kemarahan kaum muslim telah menyebar di wilayah Tepi Barat ketika Israel menutup Masjid al-Aqsa, yang merupakan situs suci kaum muslim.
Masjid al-Aqsa kembali dibuka setelah ditutup selama dua hari, ditandai dengan dipindahkannya alat pendeteksi metal dan kamera di gerbangnya.
Tiga warga Palestina terbunuh pada hari Jum'at lalu dalam aksi protes menentang penutupan Masjid al-Aqsa. Tiga warga Israel juga terbunuh dalam serangan di Tepi Barat tersebut.
Dalam pidato pada pertemuan parlementer Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Ankara, Selasa, Erdogan mengatakan, “ketika tentara Israel mengotori kesucian Masjid al-Aqsa dengan alasan yang sederhana, dan kemudian dapat dengan mudah menumpahkan darah di sana (Masjid al-Aqsa), itu disebabkan karena kita (umat Islam) belum sepenuhnya memperjuangkan Jerusalem.”
Erdogan mengatakan, perlindungan atas wilayah suci umat Islam bukan saja berbicara mengenai kemungkinan untuk berbuat lebih atau tidak, melainkan mengenai keyakinan (untuk melindunginya).
“Bagi yang dapat mengunjungi Al-Aqsa, harus memperjuangkannya. Bagi mereka yang tidak dapat mengunjungi Al-Aqsa, harus mengirimkan bantuan kepada saudara kita di sana.”
Aparat keamanan Israel memutuskan memindahkan alat pendeteksi metal. Pernyataan tersebut dikeluarkan usai pertemuan yang menyebutkan anggaran sebanyak 100 juta shekel akan digunakan untuk sistem pengawasan baru, dengan menggunakan teknologi unggul 'smart checks.'
Kota Jerusalem adalah kota suci bagi umat Islam, Yahudi dan Kristen, dan masjid Al-Aqsa adalah tanah suci setelah Makkah dan Madinah.
Presiden Erdogan juga membicarakan terkait dua hari kunjungannya ke negara-negara teluk, termasuk Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar.
“Umat Islam tidak perlu saling bertengkar, umat Islam harus menunjukkan solidaritas dan ikatan yang kuat. Atas dasar inilah, kita harus berusaha untuk memberi ruang kepada kejujuran dan saling berbicara dengan tulus atas permasalahan kita.” Ucap Erdogan.
“Saya harap, solusi untuk krisis teluk, yang menghasilkan ketegangan yang tidak penting antar saudara, harus segera ditemukan.”
Erdogan juga mengatakan, Turki adalah negara unik yang “dapat berbicara dan bertemu dengan setiap pihak, dan memiliki ikatan yang kuat” dengan negara-negara teluk. “Negara kita memiliki tempat yang special di antara negara-negara teluk.”
Kunjungan Erdogan ke negara-negara teluk merupakan langkah penting untuk membangun kembali kepercayaan dan stabilitas di kawasan.
Presiden Erdogan mencoba mencari solusi untuk krisis yang ditimbulkan oleh koalisi pimpinan Saudi yang memblokade Qatar melalui jalur diplomasi dan ekonomi, karena menganggap Qatar mendukung gerakan terorisme.
Qatar menolak tuduhan tersebut dan bersikeras blokade adalah pelanggaran atas hukum internasional.
Erdogan bertemu raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al-Saud dan mendapatkan harapan besar darinya untuk menyelesaikan krisis teluk.
Dalam pertemuannya, Erdogan mengatakan dirinya tak menyinggung pangkalan militer Turki di Qatar. Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, telah meminta penutupan pangkalan militer Turki di Qatar sebagai persyaratan untuk mencabut sangsi blokade atas Qatar.
Sistem misil S-400
Sementara itu, Presiden Erdogan menjelaskan, pembelian sistem misil pertahanan S-400 dari Rusia tidak akan menimbulkan ketegangan. “Yunani, yang juga menjadi anggota NATO telah menggunakan S-400 untuk waktu yang cukup lama. Mengapa mereka tidak memprotesnya? Mengapa mereka begitu khawatir saat S-400 akan digunakan oleh Turki?”
Presiden Erdogan juga mengatakan, “Kita telah mengambil langkah yang penting dengan Rusia terkait ini, penandatangan perjanjian telah dilakukan, dan kita akan melihat S-400 di negara kita. Kita juga akan merencanakan produksi bersama untuk S-400.”
Pembantu presiden Vladimir Kozhin mengatakan, pada akhir bulan Juni, Moskow dan Ankara telah mencapai kesepakatan terkait pengiriman S-400, namun Kremlin tidak menyetujui pinjaman untuk kesepakatan itu.
Sistem S-400 diperkenalkan tahun 2007 dan dapat mengangkut tiga jenis misil yang mampu menghancurkan target di darat dan udara, termasuk misil balistik dan misil jelajah.
S-400 dapat melacak dan menarget 300 sasaran secara bersama-sama serta mampu mencapai ketinggian 27 kilometer (17mil).
Ketegangan dengan Jerman
Presiden Erdogan juga menyebutkan ketegangan yang sedang berlangsung antara Turki dan Jerman disebabkan perusahaan Jerman yang melakukan investasi di Turki.
Erdogan mengatakan tidak ada investigasi ataupun penuntutan atas perusahaan Jerman yang beroperasi di Turki. “Ini adalah sebuah kebohongan, ini adalah representasi yang keliru.”
Menyampaikan kepada otoritas pemerintah Jerman, Erdogan mengatakan, “datang dan cari. Tanyakan pada perusahaan Anda. Apakah ada investigasi (kepada perusahaan Jerman), bila Anda menemukannya, bawakan, dan kita akan melakukan apa yang diperlukan.”
Ucapan Erdogan berangkat dari pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, terkait perubahan kebijakan yang masif atas Turki, pekan lalu.
Gabriel mengatakan pemerintah Jerman tidak akan mendorong para pebisnis di negaranya untuk berinvestasi di Turki. Jerman juga mengeluarkan travel warning baru untuk warganya yang bepergian menuju Turki.
news_share_descriptionsubscription_contact

