Maria Elisa Hospita
23 Januari 2018•Update: 24 Januari 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Di tengah berlangsungnya operasi militer Ankara untuk melawan kelompok-kelompok teror di Afrin, Suriah, Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka menanggapi kekhawatiran Turki dengan serius.
"Kami mendengarkan dan menanggapi masalah keamanan Turki dengan serius. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan Turki sebagai sekutu NATO," kata juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders, dalam konferensi pers.
Turki melancarkan Operasi Cabang Zaitun untuk memberantas PYD/PKK dan Daesh dari utara Suriah.
Menurut Staf MIliter Turki, operasi ini bertujuan untuk mewujudkan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki, juga untuk menjaga warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.
Sanders mendesak "semua pihak" untuk tetap fokus dalam pemberantasan Daesh, de-eskalasi konflik Suriah, dan perlindungan warga sipil yang tidak berdosa, sementara menuding operasi Afrin hanya akan mengalihkan perhatian dari upaya pemberantasan Daesh.
Sebelumnya di hari yang sama, Kepala Staf Umum Turki Jenderal Hulusi Akar, ketika meninjau pasukan di selatan Provinsi Hatay, menekankan bahwa operasi militer bertujuan untuk melindungi hak-hak Turki di bawah aturan hukum internasional, tanpa merugikan warga sipil atau harta benda.
"Kami ingin memastikan bahwa rezim Assad tidak bisa kembali ke Afrin, dan kami akan terus bekerja secara diplomatis untuk mengakhiri perang sipil Suriah," tegas Sanders, mendesak Turki untuk menahan diri dalam tindakan militernya.
AS mendukung PYD/PKK - yang dianggap oleh Ankara sebagai cabang organisasi PKK di Suriah - yang telah berperang lebih dari 30 tahun melawan Turki. PKK melancarkan serangkaian kampanye teror yang telah mengakibatkan korban puluhan ribu jiwa.
Washington memandang cabang PYD/PKK, SDF, sebagai "mitra terpercaya" dalam perjuangan melawan Daesh, dan bahkan terus mempersanjatai mereka, meskipun telah ditentang keras oleh Turki.