Ahmet Furkan Mercan
30 Juli 2026•Update: 30 Juli 2026
Jumlah korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan 7,1 magnitudo yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, pada 28 Juli bertambah menjadi 28 orang.
Sementara itu, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan di tengah dampak luas yang ditimbulkan bencana tersebut.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Kihara Minoru dalam konferensi pers pada Kamis mengatakan operasi pencarian dan penyelamatan pascagempa masih berlangsung dan merupakan "perlombaan melawan waktu."
Kihara juga menyinggung dampak gempa terhadap kawasan industri di Kumamoto yang menjadi lokasi sejumlah perusahaan global.
"Di wilayah ini terdapat banyak perusahaan besar di sektor semikonduktor, komponen elektronik, dan otomotif. Kami masih menilai besarnya kerusakan. Saat ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampaknya terhadap perekonomian lokal," ujarnya.
Menurut kantor berita resmi Kyodo, Pemerintah Prefektur Kumamoto menyatakan sekitar 10.000 orang masih tinggal di pusat-pusat evakuasi setelah gempa. Selain itu, sekitar 23.000 rumah tangga masih mengalami pemadaman listrik, sementara pasokan air terputus di sekitar 75.000 rumah.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan gempa terjadi pada 28 Juli pukul 16.27 waktu setempat di wilayah Uki dan Hikawa.
Gempa berkekuatan 7,1 magnitudo dengan kedalaman 10 kilometer itu memicu kerusakan luas di seluruh prefektur, termasuk kebakaran, keruntuhan jalan, dan ambruknya sejumlah jembatan.
Kumamoto sebelumnya juga pernah dilanda gempa berkekuatan 7 magnitudo pada April 2016 yang menewaskan 277 orang.
Jepang merupakan salah satu negara dengan risiko gempa bumi tertinggi di dunia karena berada di kawasan "Cincin Api Pasifik" yang dipenuhi aktivitas gunung berapi dan pertemuan lempeng tektonik.