Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
10 Januari 2020•Update: 12 Januari 2020
Enes Canli
TRIPOLI, Libya
Jenderal Khalifa Haftar, yang memimpin milisi bersenjata di Libya timur, pada Kamis menolak gencatan senjata yang diserukan oleh Rusia dan Turki.
“Kami menyambut seruan [Presiden Rusia Vladimir] Putin untuk gencatan senjata. Namun, perjuangan kami melawan organisasi teroris yang merebut Tripoli dan menerima dukungan dari beberapa negara, akan terus berlanjut sampai akhir.” kata juru bicara milisi Ahmed al-Mismari, yang mewakili Haftar, dalam video yang diunggah di media sosial.
Pada Rabu, presiden Turki dan Rusia mendesak gencatan senjata di Libya pada 12 Januari setelah pertemuan mereka di Istanbul.
Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung PBB di Tripoli menyambut baik seruan tersebut.
Pada April, pasukan Haftar meluncurkan kampanye militer untuk merebut Tripoli dari Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui secara internasional, tetapi mereka sejauh ini terus menghadapi kegagalan.
Menurut data PBB, lebih dari seribu orang terbunuh sejak awal operasi dan lebih dari 5.000 orang terluka.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.
*Ditulis oleh Burak Dag