Pizaro Gozali
28 Agustus 2017•Update: 29 Agustus 2017
Pizaro Gozali
JAKARTA
Indonesia mengecam kekerasan terbaru di wilayah Maungtaw, Rakhine, Myanmar setelah kelompok bersenjata menyerang pos kepolisian.
“Indonesia mendorong semua pihak menghentikan segera aksi kekerasan,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, kepada Anadolu Agency, Senin.
Menurut dia, Indonesia siap melanjutkan kerjasama dengan Myanmar dalam proses rekonsiliasi, demokratisasi dan pembangunan inklusif.
“Termasuk upaya implementasi rekomendasi laporan Kofi Annan,” kata dia.
Kekerasan kembali terjadi di Rakhine pada Jumat yang mengakibatkan 100 orang tewas usai bentrokan kelompok gerilyawan dan pasukan keamanan Myanmar.
Laporan media mengatakan, pihak keamanan Myanmar diduga mengusir ribuan warga Rohingya dengan membakar dan menembaki rumah mereka.
Menyusul insiden ini, aktivis Rohingya, Muhammad Imran, meminta komunitas internasional untuk menyelamatkan nyawa warga sipil Rohingya yang tak bersenjata.
“Ini sangat penting bagi kita sekarang. Situasi di dalam Myanmar di luar bayangan kita,” terang dia dari Malaysia kepada Anadolu Agency, Senin.
Menurut mantan Kepala Kamp Pengungsi Rohingya Kutupalong, Bangladesh ini, pihak otoritas mulai meningkatkan penangkapan terhadap warga, termasuk wanita, anak-anak, dan orangtua.
“Pemerintah mengerahkan banyak tentara. Mereka menargetkan warga sipil tanpa ampun,” ucap aktivis Rohingya yang pernah mendapatkan penghargaan UNHCR ini atas jasanya menjadi kepala kamp.
Kerja sama internasional
Imran menambahkan, komunitas Internasional harus bekerja sama untuk menemukan solusi jangka panjang dan memberi tekanan kepada Myanmar untuk menghentikan pelanggaran HAM.
“Bangladesh tidak dapat bergerak sendiri dalam memberikan bantuan kemanusiaan,” kata dia.
Namun sayangnya, kejadian ini terjadi tak lama setelah Kofi Annan menyampaikan laporannya kepada pemerintah Myanmar.
“Tentara Myanmar telah mengambil tindakan brutal terhadap warga Rohingya,” ucap dia.