Zeynep Ozturhan
23 Mei 2026•Update: 23 Mei 2026
Petani memegang peran penting dalam upaya menghadapi perubahan iklim, terutama melalui penerapan metode penggunaan air yang lebih efisien di sektor pertanian, kata seorang pakar ilmu pertanian.
Profesor hidrolika pertanian, irigasi, dan penginderaan jauh dari University of Naples Federico II, Guido D’Urso, mengatakan wilayah pertanian di kawasan Mediterania perlu didorong untuk beradaptasi terhadap cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.
Menurut dia, langkah melindungi lahan subur di kawasan Mediterania tidak hanya menjaga keberlangsungan tanah pertanian, tetapi juga mencegah kerugian besar bagi produksi pangan dan petani.
“Pertanian merupakan sektor dengan konsumsi air terbesar sehingga langkah-langkah di bidang ini menjadi sangat penting,” kata D’Urso kepada Anadolu.
Ia menegaskan teknologi saat ini sebenarnya telah menyediakan berbagai alat untuk mempersiapkan dan memantau proses penggunaan air, baik dalam menghadapi bencana maupun mengidentifikasi kerentanan sejak dini.
D’Urso mengatakan pembahasan mengenai air irigasi selama ini masih cenderung bersifat umum dan belum memiliki standar yang jelas.
Menurut dia, prosedur pencatatan penggunaan air perlu distandardisasi agar setiap wilayah mengetahui secara pasti jumlah air yang tersedia serta penggunaannya untuk kebutuhan sipil, industri, dan pertanian.
Ia menilai langkah tersebut akan membuat kebijakan distribusi air menjadi lebih transparan.
Meski secara teori mudah diterapkan, D’Urso mengatakan pelaksanaan di lapangan masih menghadapi kendala karena sektor air dikelola oleh berbagai otoritas berbeda yang sering memunculkan konflik kepentingan dan masalah data.
D’Urso juga menyoroti pentingnya generasi muda dalam mempercepat transformasi pertanian berbasis teknologi.
Ia menyebut petani muda lebih akrab dengan teknologi dibanding generasi sebelumnya sehingga dapat membantu mendorong pertanian berbasis data.
“Semua langkah penggunaan sumber daya air, terutama di pertanian, kini dapat mengandalkan teknologi baru,” katanya.
Ia menambahkan kebijakan masa lalu, termasuk di Turkiye, lebih banyak berfokus pada pembangunan bendungan besar yang kompleks untuk dikelola.
Menurut D’Urso, ketahanan terhadap kekeringan dapat lebih ditingkatkan melalui intervensi di tingkat pertanian dan solusi berbasis alam.
Ia mendorong pemberian insentif kepada petani untuk menggunakan irigasi tetes, irigasi bawah permukaan, dan teknologi pengendalian jarak jauh guna mengurangi penguapan serta meningkatkan efisiensi distribusi air ke lahan pertanian.
D’Urso juga menekankan perlunya sistem peningkatan kapasitas di semua tingkat untuk menjembatani kesenjangan antara peneliti dan petani sebagai pengguna akhir inovasi.
Menurut dia, petani juga merupakan pelaku usaha yang harus tetap memperoleh penghasilan sehingga diperlukan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
“Masa depan planet ini juga bergantung pada petani,” ujarnya.