İqbal Musyaffa
28 September 2018•Update: 28 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia pada sesi debat dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis, mendesak komitmen PBB dalam menciptakan perdamaian di TImur Tengah.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pusat perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah adalah persoalan Palestina yang berkepanjangan.
“Komitmen PBB untuk perdamaian akan dipertanyakan, jika tidak dapat menyelesaikan konflik Palestina-Israel,” tegas Kalla.
Di hadapan para delegasi dan kepala negara, Wapres Kalla juga menyoroti ancaman terdekat terhadap status quo Yerusalem yang semakin nyata, dan jutaan pengungsi Palestina yang akan dipertaruhkan.
“Situasi kemanusiaan semakin buruk dari hari ke hari. Situasi saat ini tidak hanya membahayakan proses perdamaian, namun juga menghancurkan harapan rakyat Palestina dan harapan kita semua untuk negara Palestina merdeka,” ungkap dia.
Wapres Kalla juga menekankan bahwa komunitas internasional tidak bisa lagi terus diam. PBB harus mendorong negosiasi segera yang dapat membuat solusi dua negara menjadi kenyataan.
“Indonesia akan terus berdiri bersama rakyat Palestina, sampai hari Palestina benar-benar merdeka,” seru Wapres Kalla.
Pada tingkat global Indonesia mendapat kehormatan untuk memberikan kontribusi bagi penjaga perdamaian. Indonesia kini berkontribusi dengan menerjunkan lebih dari 3.500 personel di sembilan misi PBB, dan menjadi negara dengan kontribusi tentara/polisi terbesar ke-8.
“Kami tidak akan berhenti di sini. Kami siap menerjunkan 4.000 pasukan pemelihara perdamaian pada tahun 2019, dengan peningkatan proporsi pasukan pemelihara perdamaian perempuan,” papar dia.
Wapres Kalla menyakini operasi Penjagaan Perdamaian PBB harus terus menjadi usaha unggulan PBB dengan terus meningkatkan kapasitasnya.
“Itulah sebabnya kami mendukung Deklarasi Aksi untuk Menjaga Perdamaian,” kata Wapres Kalla.