Shenny Fierdha
JAKARTA
Komisi I Dewan Pewakilan Rakyat pada Senin (17/7) menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina dari jajahan Israel menyusul penutupan kawasan Masjid Al Aqsa di Yerusalem pada Jumat silam (14/7).
Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Komisi I yang menangani isu luar negeri di samping pertahanan, intelijen, serta komunikasi dan informatika, TB. Hasanuddin saat ditemui Anadolu Agency di kantornya di gedung DPR, Jakarta.
“Indonesia banyak mendukung Palestina untuk meminta Palestina menyatakan kemerdekaannya. Juga dukungan terhadap upaya Palestina di dunia internasional selalu didukung oleh Indonesia. Indonesia yang pertama mendukung kemerdekaan Palestina sejak zaman Bung Karno. Kenapa Indonesia? Karena sesuai Undang-Undang Dasar, Indonesia itu antipenjajahan, antikolonialisme,” kata Hasanuddin.
“Melalui kegiatan internasional, Indonesia sudah berulang kali menyerukan untuk ikut aktif mendukung kemerdekaan Palestina. Indonesia terlibat dalam kegiatan sosial untuk Palestina, misalnya [memberikan] bantuan logistik, kesehatan, pembuatan rumah sakit, dan sebagainya.”
Terkait langkah diplomatik yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia, ia mengatakan bahwa hal ini sudah dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amman. KBRI yang berlokasi di ibukota Yordania tersebut dibuka pada 1985 dan memiliki dua negara akreditasi yakni Kerajaan Yordania Hasyimiah dan Palestina.
“Upaya pendekatan secara diplomasi untuk mencari upaya damai. Upaya diplomasi itu lebih penting daripada upaya peperangan,” kata politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.
“Indonesia ambil sikap untuk duduk bersama dengan cara-cara damai supaya Israel membebaskan Palestina dan biarkan Palestina menjadi sebuah negara bebas dan merdeka seperti bangsa lain di dunia,” tutupnya.
Jum'at lalu, terjadi insiden penembakan terhadap beberapa polisi Israel oleh tiga orang keturunan Arab di Kota Tua, Yerusalem. Para pelaku lalu lari ke Haram al-Sharif yaitu suatu area yang di dalamnya meliputi Mesjid Al Aqsa. Mereka kemudian ditembak mati polisi di sana.
Tak lama kemudian, otoritas Israel menutup area tersebut sehingga umat Muslim tidak bisa menunaikan solat Jumat di Masjid Al Aqsa. Hal ini memicu kemarahan dan kecaman umat Muslim dari sejumlah negara di antaranya Yordania, Malaysia, bahkan Organisasi Kerjasama Islam (OKI).
Pada Minggu (16/7), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memutuskan untuk membuka kembali area tersebut secara bertahap setelah kondisi keamanan di sana dirasa membaik.
news_share_descriptionsubscription_contact

