Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
06 Januari 2020•Update: 07 Januari 2020
Muhammet Kursun
TEHRAN
Iran pada Minggu mengumumkan tidak akan lagi mematuhi komitmen apa pun di bawah perjanjian nuklir 2015 yang ditandatangani dengan sejumlah kekuatan dunia.
"Dengan mengambil langkah kelima dalam mengurangi kewajibannya, Iran mengabaikan batasan praktis penting terakhir di bawah Rencana Aksi Komprehensif Bersama, yang berkaitan dengan jumlah sentrifugal," kata pemerintah dalam sebuah pernyataan.
Namun, Iran mencatat bahwa mereka akan terus bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Pemerintah menambahkan bahwa jika sanksi AS dicabut dan memberikan keuntungan, Teheran siap untuk kembali ke perjanjian.
Keputusan itu diambil setelah Qasem Soleimani, kepala Pasukan Quds Iran, tewas dalam serangan udara AS di Baghdad, Jumat pagi.
Kematian Soleimani telah menyebabkan ketegangan antara AS dan Iran meningkat secara dramatis.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang menganugerahkan kehormatan kepada Soleimani tahun lalu, bersumpah akan melakukan pembalasan kejam dalam menanggapi pembunuhan sang jenderal.
Soleimani telah lama menjadi komandan Pasukan Quds, sebuah unit di bawah Korps Garda Revolusi Islam.
Pasukan itu ditetapkan Amerika Serikat sebagai kelompok teroris sejak 2007 dan diperkirakan memiliki 20.000 anggota.
Kesepakatan nuklir Iran, juga dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), ditandatangani pada 2015 antara Iran dan Rusia, China, Prancis, AS, Inggris dan Jerman.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak Mei 2018, ketika Washington secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015.
Sejak itu, AS memulai kampanye diplomatik dan ekonomi untuk menekan Iran agar bisa menegosiasikan kembali perjanjian tersebut.
Sebagai bagian dari kampanyenya, AS telah memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak mentah Iran yang sangat mempengaruhi perekonomian negara itu.
*Dilara Hamit berkontribusi pada berita ini dari Ankara