Maria Elisa Hospita
19 November 2018•Update: 19 November 2018
Yusuf Ozcan
PARIS
Seorang jurnalis Prancis mengatakan bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi “memalukan” Prancis sekaligus membenarkan bahwa Turki telah berbagi informasi dan rekaman pembunuhan itu dengan negaranya.
"Kejadian ini mempermalukan Prancis," ujar Jean-Dominique Merchet, yang bekerja untuk harian L’Opinion.
Dia menambahkan bahwa Arab Saudi adalah sekutu strategis Prancis.
“Tidak diragukan lagi bahwa Turki telah memberikan informasi ke Prancis. Keterangan dari Perdana Menteri Kanada [Justin Trudeau] bahwa dia sudah mendengarkan rekaman itu adalah bukti bahwa informasi tersebut sudah sampai ke tangan Prancis juga,” tambah jurnalis itu.
Merchet mengatakan bahwa motif di balik pernyataan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian adalah untuk menjaga hubungan baik dengan Arab Saudi.
Pekan lalu, Le Drian mengklaim bahwa negaranya tidak memiliki rekaman, padahal Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa Ankara telah berbagi rekaman pembunuhan Khashoggi dengan beberapa negara, termasuk Prancis.
"Menlu Prancis sudah kelewatan. Dia harus tahu bagaimana seharusnya berbicara dengan seorang presiden," ujar Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, yang menuding Le Drian berbohong.
"Pembunuhan Khashoggi telah melemahkan posisi [Putra Mahkota Saudi] Mohammed bin Salman dan citranya di masyarakat internasional telah rusak," kata Merchet, menambahkan bahwa orang-orang Saudi tidak menyadari betapa seriusnya masalah ini.
Jurnalis tersebut juga mengatakan bahwa untuk membuat kemajuan dalam kasus Khashoggi dan masalah Yaman, setiap orang harus memiliki pendapat yang sama di Eropa.
Khashoggi, seorang jurnalis Saudi yang bekerja untuk The Washington Post, tewas tak lama setelah ia memasuki gedung Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Arab Saudi telah menyampaikan beragam penjelasan mengenai hilangnya Khashoggi, sebelum akhirnya mengakui bahwa dia dibunuh dalam 'operasi liar'.