Muhammad Abdullah Azzam
01 Juli 2020•Update: 01 Juli 2020
Bayram Altug
JENEWA
Juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB Liz Throssell mengatakan pada Selasa bahwa dirinya merasa "ngeri" dengan penemuan kuburan massal baru-baru ini di sekitar kota Tarhuna, Libya.
Menjawab pertanyaan tertulis dari Anadolu Agency, Throssell mengungkapkan pihaknya "kaget dan ngeri atas penemuan kuburan massal di Tarhuna dan sekitarnya".
"Pada 18 Juni kami telah meminta penyelidikan yang cepat, menyeluruh, efektif, transparan, dan independen untuk menetapkan fakta dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh semua pihak di Libya," kata dia.
Dia mengatakan kantornya belum menghubungi otoritas Libya mengenai kuburan massal, tetapi Misi Dukungan PBB untuk Libya (UNSMIL) telah mengikuti dari dekat apa yang terjadi dan menjawab seruan dari pemerintah Libya.
Throssell mengatakan Fatou Bensouda, kepala penuntut Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada 22 Juni mengungkapkan mereka telah memasukkan agenda pembahasan kuburan massal dalam lingkup investigasi Libya yang sedang berlangsung.
Dia mengatakan ICC sekarang berhubungan langsung dengan otoritas Libya.
Kejaksaan ICC melanjutkan penyelidikan awal untuk kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama konflik di Libya sejak penggulingan Muammar Khadafi pada 2011.
Meski Libya bukan negara anggota dalam Statuta Roma, perjanjian pendirian ICC, pengadilan masih dapat menyelidiki kejahatan yang dilakukan di Libya karena keputusan Dewan Keamanan PBB.
Dalam pernyataan tertulis, Bensouda mengatakan otoritas Libya telah memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada pihaknya.
Ada 11 kuburan massal di Tarhuna dan daerah sekitarnya, yang telah dibersihkan dari milisi Khalifa Haftar.
Bensouda memperingatkan bahwa kuburan massal di Libya dapat dianggap sebagai "kejahatan perang" atau "kejahatan terhadap kemanusiaan".