James Tasamba
27 Juli 2026•Update: 27 Juli 2026
Jumlah korban meninggal akibat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) telah melampaui 1.400 orang, berdasarkan data resmi yang dirilis pemerintah pada Senin (27/7). Otoritas kesehatan memperingatkan jumlah kasus kini mendekati wabah Ebola terbesar yang pernah tercatat di negara tersebut.
Kementerian Kesehatan DR Kongo menyatakan bahwa sejak wabah Ebola ke-17 diumumkan pada pertengahan Mei, telah tercatat 3.200 kasus infeksi, termasuk 1.405 kematian.
Hingga 25 Juli, sebanyak 773 pasien masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit, sementara 571 orang dinyatakan sembuh.
Wabah tersebut telah menyebar ke lima provinsi, yakni Haut-Uele, Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Tshopo.
Otoritas kesehatan menyatakan kegiatan pengawasan, diagnosis, penanganan pasien, serta pelacakan kontak terus dilakukan untuk menekan penyebaran penyakit.
Menurut pemerintah, wabah saat ini hanya terpaut sekitar 270 kasus dari wabah Ebola terbesar ke-10 yang melanda provinsi Kivu Utara dan Ituri pada Agustus 2018 hingga Juni 2020.
Dalam wabah tersebut, otoritas kesehatan mencatat 3.470 kasus dengan 2.287 kematian.
Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Jean Kaseya, pada Sabtu (25/7) mengatakan pihaknya telah menyepakati langkah-langkah darurat bersama Perdana Menteri DR Kongo Judith Suminwa untuk memperkuat penanganan wabah, melindungi tenaga kesehatan di garis depan, serta menutup berbagai kekurangan operasional.
Pekan lalu, Kaseya juga kembali menyerukan kepada para pemimpin negara-negara Afrika dan mitra internasional agar menghimpun dana sedikitnya US$1,4 miliar guna memperkuat respons terhadap wabah Ebola di seluruh benua Afrika.
Ia menyampaikan hal itu dalam Sidang Majelis Uni Afrika di Accra, Ghana, seraya menjelaskan bahwa kebutuhan anggaran penanganan wabah meningkat dari perkiraan awal sebesar US$518 juta seiring memburuknya situasi penyebaran penyakit.