18 Agustus 2017•Update: 18 Agustus 2017
Alex Jensen
SEOUL
Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in memperingati 100 hari pemerintahannya, Kamis, dengan mendeklarasikan “tidak akan ada lagi perang di Semenanjung Korea.”
Dalam konferensi pers di Seoul, Moon menyatakan sekali lagi bahwa ancaman nuklir Korea Utara (Korut) harus diselesaikan dengan cara damai.
Meskipun begitu, sekutu dekat Seoul, Amerika Serikat (AS) justru bersiap untuk bertempur dengan Pyongyang di tengah-tengah perang deklarasi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korut Kim Jong-un.
Menyusul pernyataan ancaman “api dan murka” terhadap Korut, Moon mengatakan kepada pers bahwa ia percaya pemimpin AS hanya ingin “menekan Korut dengan menunjukkan ketegasannya.”
“Saya tidak benar-benar yakin bahwa pernyataannya menunjukkan deklarasi perang,” katanya. Moon juga menegaskan bahwa AS tidak dapat memulai perang di Semenanjung Korea tanpa izin dari Seoul.
Moon juga masih menunjukkan ketegasannya terhadap Korut dengan memperkuat sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah uji coba 2 rudal balistik antar benua (ICBM) bulan lalu.
“Saya yakin dengan Korea Utara menyelesaikan pengembangan uji coba ICBM dan memasang hulu ledak nuklir pada rudal balistiknya akan benar-benar melampaui batas. Jika Korut kembali memprovokasi, maka mereka akan mendapat sanksi yang lebih berat,” tegas Moon.
Sejauh ini, Pyongyang menolak ajakan Moon untuk berdialog dan bekerja sama, dan menyebut ajakan tersebut “tidak tulus”.