14 Agustus 2017•Update: 14 Agustus 2017
Alex Jensen
SEOUL
Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in mengesampingkan permasalahan Semenanjung Korea, meskipun ia mengakui bahwa ancaman Korea Utara (Korut) telah mencapai tingkat yang tidak dapat ditoleransi.
“Kami tidak dapat lagi berperang di Semenanjung Korea,” katanya selama jumpa pers di kantor kepresidenan, yang dilanjutkan dengan diskusi dengan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford.
Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengejutkan dunia dengan pernyataannya terhadap Korut, bahwa Korut akan menghadapi serangan terdahsyat jika terus mengancam AS – meskipun Pyongyang telah menanggapinya dengan menguraikan rencana peluncuran rudal balistik ke perairan dekat pangkalan militer AS di Guam.
“Saya mendesak Korea Utara untuk menghentikan segala tindakan provokasi dan ancaman sesegera mungkin, dan berhenti untuk memperparah keadaan,” tegas Moon saat pertemuan mingguan dengan pejabat tinggi negara, menurut kantor berita Yonhap.
Presiden Moon menambahkan, ia yakin bahwa AS akan menanggapi situasi saat ini dengan tenang dan penuh rasa tanggung jawab.
Dalam diskusi dengan Dunford, Moon menyampaikan keinginannya untuk menjalin kerja sama dengan Korut, namun juga menambahkan bahwa situasi di semenanjung saat ini merupakan sebuah ancaman yang paling nyata dan mendesak daripada ancaman nuklir dan rudal Korut sebelumnya.
Secara terpisah, Menteri Pertahanan Seoul Song Young-moo mengatakan bahwa kecil kemungkinan bahwa Korut akan benar-benar menembakkan rudal ke Guam.