Surya Fachrizal Aprianus
28 April 2018•Update: 29 April 2018
Alex Jensen
SEOUL
Pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan sepakat pada Jumat untuk mewujudkan "denuklirisasi menyeluruh" dan perdamaian abadi di Semenanjung Korea.
Kesepakatan itu terwudud usai pada pertemuan bilateral bersejarah antara Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Area Keamanan Bersama Panmunjom di Selatan.
"Kedua pemimpin dengan sungguh-sungguh menyatakan [...] tidak akan ada lagi perang di Semenanjung Korea dan era baru perdamaian telah tiba," kata mereka dalam deklarasi bersama setelah KTT, seperti dilansir kantor berita Korea Selatan Yonhap.
Mereka juga menegaskan kembali perjanjian sebelumnya untuk menciptakan kawasan semenanjung Korea yang bebas dari nuklir.
Yonhap melaporkan kedua Korea sepakat untuk mengadakan negosiasi lanjutan yang melibatkan China dan Amerika Serikat untuk menggantikan perjanjian gencatan senjata sementara menyusul Perang Korea pada 1953 itu.
Selatan dan Utara "tidak akan menggunakan bentuk kekuatan apa pun terhadap satu sama lain," tulis Yonhap mengutip pernyataan bersama tersebut.
Moon dan Kim juga "setuju untuk secara bertahap mengurangi jumlah persenjataan jika ketegangan militer telah hilang dan kepercayaan antara keduanya terwujud.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut terobosan bersejarah tersebut. Katanya, "banyak hal hebat telah terjadi selama 24 jam terakhir".
Trump menilai Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un tidak sedang memanipulasi pembicaraan.
Tapi Trump mengatakan AS tidak akan lagi bisa dipermainkan seperti dulu. “Kami tidak mau dipermainkan. Kami akan datang dengan solusi. Jika tidak demikian, kami akan meninggalkan “ruangan” itu. Dengan penuh hormat kami akan meninggalkan ruangan,” kata Trump.
Trump dijadwalkan akan menerima kunjungan bersejarah Kim ke AS pada Mei atau Juni mendatang.
Jika hal itu terwujud, Trump akan menjadi Presiden AS pertama yang menyambut kunjungan Pemimpin Korea Utara.
Washington dan Pyongyang dilaporkan tengah berupaya keras mewujudkan pertemuan ini.
Keduanya akan menindaklanjuti hal itu dengan pembicaraan militer pada akhir bulan depan, bersamaan dialog dengan Palang Merah untuk menangani masalah kemanusiaan seperti menyatukan para keluarga yang terpisah akibat Perang Korea.
Menyusul pertemuan kedua Pemimpin Korea, istri Presiden Korsel Ri Sol-ju ikut menyeberang ke Selatan pada siang harinya untuk menghadiri jamuan makan malam yang menyajikan hidangan khas kedua Korea di area perbatasan.
* Sorwar Alam di Ankara dan Michael Hernandez di Washington berkontribusi pada laporan ini.