Chandni
08 Mei 2018•Update: 09 Mei 2018
Zahid Rafiq
SRINAGAR, Jammu Kashmir
Pemimpin-pemimpin gerakan pro kemerdekaan di Jammu Kashmir berupaya menutup total kawasan itu pada Senin, sehari setelah lima militan dan enam warga tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan India.
Kantor, sekolah dan toko-toko ditutup total sementara transportasi publik dan lokal menghindari jalan-jalan raya.
Pemerintah menanggapi kejadian itu dengan menghentikan sementara layanan internet seluler dan kereta api di wilayah tersebut.
Ratusan jalan diblokade dengan kawat berduri dan tentara bersenjata berat dikerahkan untuk menjaga area setempat.
Penutupan total pada Senin itu terjadi berkat dorongan pemimpin pro kemerdekaan yang menggelar protes di luar Sekretariat Sipil di kota Srinagar.
Menurut pernyataan dari Hurriyat, pimpinan gerakan itu, Mirwaiz Umar, yang tengah berada dalam tahanan rumah sejak Sabtu, mencoba mendobrak barisan dan ditahan oleh polisi. Seorang pemimpin lainnya, Yasin Malik, ditahan polisi sejak Sabtu. Seorang tokoh Hurriyat lainnya, Syed Ali Geelani, juga berada dalam tahanan rumah.
Pada Minggu, lima gerilyawan tewas ketika pasukan India menggerebek rumah mereka di malam hari. Mereka termasuk dua komandan senior militan dan seorang profesor sosiologi di Universitas Kashmir, yang diyakini baru saja bergabung dengan kelompok militan. Menurut laporan, dia meninggalkan universitasnya di Srinagar pada Jumat sore dan terbunuh pada Minggu pagi.
Sementara warga sipil tewas ketika pasukan India diduga melepaskan tembakan ke arah demonstran yang mendukung para militan yang tewas. Ribuan orang datang mendukung para pemberontak, meneriakkan slogan-slogan kemerdekaan Kashmir dari India, dan melemparkan batu ke pasukan India.
Kashmir, wilayah Himalaya dengan mayoritas peduduk Muslim, terbagi menjadi area yang diduduki India dan Pakistan, serta sebagian kecil diduduki Cina.
India dan Pakistan telah berperang 3 kali – pada 1948, 1965 dan 1971 – sejak berpisah pada 1947, dua pertempuran itu terkait Kashmir. Kelompok pemberontak di Jammu dan Kashmir terus berjuang untuk kemerdekaan dari kuasa India, atau untuk bergabung dengan Pakistan.
Lebih dari 70.000 orang telah tewas dalam konflik itu sejak 1989. India menempatkan lebih dari setengah juta tentara di area yang disengketakan itu.