Hayati Nupus
28 Juni 2019•Update: 28 Juni 2019
Hassan Isilow
JOHANNESBURG, Afrika Selatan
Orang-orang Afrika Selatan menyatakan emosinya setelah tentara mendisiplinkan seorang perwira senior perempuan Muslim karena mengenakan jilbab di bawah baret militernya.
Mayor Fatima Isaacs, 47, didakwa di pengadilan militer di Cape Town pada Selasa karena melanggar perintah untuk tak mengenakan jilbab saat berseragam.
“Kami telah mengirim surat kepada Menteri Pertahanan untuk menyampaikan keprihatinan dan keberatan terhadap masalah ini. Kami percaya itu tak konstitusional. Itu bertentangan dengan semangat dan aturan konstitusi,” ujar Ketua Jaringan Muslim Amerika Selatan (SAMNET) Faisal Suliman kepada Anadolu Agency pada Kamis malam.
Sulimen mengatakan tindakan atas nama disiplin terhadap Fatima itu menghambat perkembangan masyarakat plural.
Dia juga mendesak Pasukan Pertahanan Nasional Afrika Selatan (SANDF) untuk menyusun amandemen aturan berpakaian demi mengakomodasi semua kelompok agama.
“Kami percaya jilbab tak menghambat kerja dengan seragam atau mengurangi kemampuan Mayor Fatima atau siapapun,” kata dia.
Fatima bekerja sebagai ahli patologi forensik di rumah sakit militer di Cape Town dan mengenakan jilbab selama bertahun-tahun, meski ada perintah untuk melepasnya.
Namun, pekan lalu, dia menerima peringatan tertulis terakhir dan hadir dalam persidangan di pengadilan militer.
Kepala Royal House of Mandela juga mengeluarkan pernyataan yang mengecam kejadian itu.
“Tak dapat dibayangkan bahwa Angkatan Pertahanan Nasional Afrika Selatan akan menolak hak karyawan untuk menjalankan kebebasan beragama dengan mengenakan jilbab,” kata dia.
Pernyataan itu juga mendesak Menteri Pertahanan untuk membatalkan tindakan disipliner terhadap Fatima, dengan mengatakan ini penghinaan mutlak atas hak-haknya menjalankan kebebasan beragama.