Shweta Desai
22 April 2022•Update: 26 April 2022
PARIS
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada Kamis bahwa dia belum berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sejak kekejaman di kota Bucha di Ukraina terungkap dan menegaskan kembali tekadnya untuk melanjutkan pembicaraan pekan depan untuk gencatan senjata jika kembali terpilih.
"Saya akan memiliki kesempatan, jika wanita dan pria Prancis mempercayai saya, mulai minggu depan untuk meneleponnya," katanya saat berkampanye di pinggiran kota Paris Saint-Denis menjelang putaran terakhir pemilihan presiden pada 24 April.
Macron telah dikritik oleh para pemimpin Eropa karena berinteraksi dengan Putin meskipun Kremlin menolak tuntutan gencatan senjata atau memperlambat pertempuran di Ukraina.
Seruan untuk gencatan senjata tidak membuahkan hasil, kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Macron mengatakan penting bagi Eropa untuk tetap “bersatu dan waspada” dan melanjutkan dialog dengan sekutu untuk mengirim pesan yang jelas ke Rusia bahwa “tidak boleh ada eskalasi.”
Pernyataan presiden Prancis itu mengikuti rencana Putin untuk merebut kota Mariupol setelah dan uji coba rudal balistik antarbenua RS-28 Sarmat yang berkemampuan nuklir.
Dia mendesak Rusia “untuk tetap menjadi kekuatan yang bertanggung jawab.” Sebagai negara nuklir, Rusia tidak boleh “menyerah pada segala bentuk provokasi, karena itu akan menjadi perubahan besar dalam tata bahasa internasional,” katanya.
Dalam sebuah pernyataan di Twitter, Macron meminta Rusia mengizinkan akses kemanusiaan dan mengizinkan ribuan warga sipil yang terperangkap di Mariupol untuk meninggalkan kota karena situasinya semakin buruk.
Macron telah mempertahankan jalur komunikasi langsung dan bertukar pembicaraan dengan Putin sejak perang dimulai pada akhir Februari dalam upaya mencapai gencatan senjata dan bekerja menuju perdamaian.
Ada jeda dalam komunikasi sejak 3 April ketika laporan tentang Bucha muncul dan kemudian dia harus fokus dalam kampanye pemilu.