Safvan Allahverdi
27 April 2018•Update: 28 April 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Jim Mattis mengatakan pada hari Kamis bahwa negaranya akan memperluas operasi di Suriah meskipun Presiden Donald Trump menyatakan kesediaan untuk mundur dari negara yang sedang dilanda perang itu.
"Kami melanjutkan perjuangan [melawan Daesh]," kata Mattis dalam sidang Komite Senat Bersenjata tentang anggaran Departemen Pertahanan.
"Kami akan memperluas dan membawa lebih banyak dukungan regional; [itu] mungkin adalah pergeseran terbesar yang kami buat sekarang."
Menekankan kehadiran anggota koalisi anti-Daesh di wilayah itu, dia mengatakan pertarungan akan berlanjut sampai Suriah benar-benar bersih dari Daesh.
Mattis juga mengatakan operasi melawan Daesh akan meningkat di sisi perbatasan Irak, sementara Prancis telah memperkuat AS di Suriah dengan pasukan khusus dalam dua minggu terakhir.
Awal bulan ini, Trump mengatakan pasukan AS akan meninggalkan Suriah "segera" karena Daesh telah dikalahkan, dengan alasan pembelanjaan AS di Timur Tengah sia-sia dan mengurangi pengeluaran domestik.
Namun Pentagon menggambarkan kabar tentang rencana untuk menarik pasukan Amerika keluar dari Suriah sebagai "rumor", dengan menambahkan AS akan terus memerangi Daesh di sana. Trump kemudian setuju untuk mempertahankan pasukannya di negara itu untuk jangka pendek.
Pada konferensi pers bersama baru-baru ini dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Gedung Putih, Trump kembali menegaskan bahwa dia ingin pasukan Amerika kembali dari Suriah tetapi juga tidak ingin Iran memperkuat pengaruhnya di kawasan itu, terutama setelah kekalahan Daesh.
Selama sidang komite, Mattis juga dimintai pendapatnya tentang apakah AS harus tetap dengan Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA), yang umumnya dikenal sebagai kesepakatan Iran.
Berbeda dengan Trump, yang menganggap kesepakatan nuklir Iran 2015 adalah "hal gila" dan "kesepakatan terburuk yang pernah terjadi", Mattis menyoroti nilai dari beberapa bagian perjanjian, dengan menambahkan bahwa Washington bekerja dengan sekutu Eropanya untuk melihat apakah ada cara untuk meningkatkan perjanjian.
Tetapi Trump telah berulang kali menyerang kesepakatan itu dan telah mengancam akan menarik diri, kecuali Washington dan sekutu Eropanya mendapat kesepakatan dengan kondisi yang sebagian besar tidak terkait dengan perjanjian asli yang akan mencakup program rudal balistik Iran dan kegiatan regional.
Ketika ditanya, Mattis mengatakan belum ada keputusan yang diambil atas penarikan AS.
"Keputusan belum dibuat apakah kita dapat memperbaikinya untuk bisa tetap berada dalam kesepakatan, atau apakah presiden akan memutuskan untuk menarik diri darinya," katanya selama persidangan.
AS mengakui bahwa pakta nuklir adalah "perjanjian kontrol senjata yang tidak sempurna", kata Mattis.
"Saya akan mengatakan pakta itu ditulis hampir dengan asumsi bahwa Iran akan mencoba untuk menipu. Jadi verifikasinya adalah apa yang ada di sana, sebenarnya cukup kuat," tambahnya. "Apakah itu cukup atau tidak, saya pikir itu adalah pertanyaan yang valid."
Penandatangan pakta lainnya - antara Inggris, Prancis, Jerman, Uni Eropa, China dan Rusia - melihat kesepakatan itu sebagai cara terbaik untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Iran telah dengan tegas membantah bahwa programnya dimaksudkan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Trump memiliki tenggat waktu hingga 12 Mei untuk memutuskan apakah ia akan terus memperpanjang sanksi terhadap Iran dengan atau tanpa kesepakatan lain yang dia inginkan. Jika dia gagal memperpanjang, kesepakatan hampir pasti akan runtuh.