Muhammad Abdullah Azzam
26 Agustus 2020•Update: 27 Agustus 2020
Ali Murat Alhas
ANKARA
Turki pada Selasa mengatakan Hamas adalah aktor yang terpilih secara demokratis di Gaza yang mewakili masyarakat di kawasan itu.
Negara itu juga menolak pernyataan keberatan Amerika Serikat (AS) atas pertemuan Presiden Recep Tayyip Erdogan beberapa hari lalu dengan anggota Hamas di Turki.
Melalui sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri, Turki menyatakan sepenuhnya menolak pernyataan AS yang melanggar batas.
Otoritas Turki menambahkan bahwa tuduhan teroris terhadap perwakilan Hamas tidak akan berkontribusi pada perdamaian atau stabilitas di Timur Tengah.
Turki menuduh otoritas AS secara terbuka mendukung kelompok teroris YPG/PKK dan menjadi tuan rumah pemimpin Organisasi Teroris Fethullah (FETO), kelompok di balik kudeta gagal pada 2016 di Turki.
Otoritas Turki mengatakan AS tidak memiliki hak untuk mengomentari negara-negara lain.
Pernyataan itu mengatakan setelah pemerintah AS mencantumkan Hamas sebagai kelompok teroris dan menutup misi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Washington, Amerika telah memutuskan hubungan mereka dengan pihak Palestina, mengisolasi diri dari realitas regional.
Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas, dan delegasinya melakukan kunjungan ke Turki selama akhir pekan dan bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istanbul pada Sabtu.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan UE - bertanggung jawab atas kematian hampir 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi.
AS telah bersekutu dengan YPG, cabang PKK di Suriah, yang diklaimnya untuk melawan Daesh/ISIS.
FETO dan Fethullah Gulen, pemimpinnya yang bersarang di AS, melancarkan kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang Turki tewas dan hampir 2.200 lainnya terluka.
AS enggan mengekstradisi pemimpin kelompok teror FETO, Fethullah Gulen, meski Turki telah bertahun-tahun memintanya.