Chandni
24 Januari 2018•Update: 25 Januari 2018
Fatih Erel
DAVOS, Swiss
PBB mendesak agar Myanmar membuka akses kemanusiaan di Rakhine state dan memastikan keselamatan warga Muslim Rohingya yang dipulangkan.
"Hingga saat ini, pengamanan yang dibutuhkan calon pengungsi masih belum memadai dan masih terdapat larangan masuk untuk berbagai lembaga kemanusiaan, media dan pihak independen lainnya," kata juru bicara UNHCR Adrian Edwards dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, Selasa.
"Pada saat yang sama, pengungsi dari Rakhine terus masuk ke Bangladesh."
Sekitar dua bulan lalu, Bangladesh dan Myanmar menyetujui perjanjian repatriasi Rohingya dan sepakat mengirimkan 100.000 pengungs kembali ke Myanmar dalam fase pertama.
"Sekali lagi kami minta Myanmar membuka jalan masuk untuk bantuan kemanusiaan di Rakhine state dan menciptakan kondisi yang mendukung adanya solusi jangka panjang," seru Edwards.
Sejak 25 Agustus, lebih dari 656.000 warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.
Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF).
Dalam sebuah laporan tertanggal 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan, termasuk 730 anak-anak dibawah usia 5 tahun.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan –termasuk bayi dan anak-anak—pemukulan brutal dan penghilangan oleh petugas keamanan.
Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.