Maria Elisa Hospita
22 Juni 2020•Update: 23 Juni 2020
Enes Canli
TRIPOLI
Representatif Permanen Libya untuk PBB mengatakan Libya lebih dari sekadar wilayah yang berbatasan dengan Mesir tetapi negara merdeka dengan integritas wilayah.
Taher El-Sonni menegaskan hal itu sebagai tanggapan pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi yang tengah menghadapi kritik dari komunitas internasional.
Sebelumnya, al-Sisi menyebut kota pesisir Sirte dan pangkalan udara al-Jufra sebagai "garis merah" Mesir.
Lewat Twitter-nya, El-Sonni mengatakan bahwa Mesir telah berulang kali diperingatkan untuk tidak mendukung panglima perang Khalifa Haftar dan Mesir harus mencabut garis merahnya di Semenanjung Sinai.
"Mesir harus meninggalkan Libya dan berhenti ikut campur dalam urusan dalam negeri Libya," tegas perwakilan PBB itu.
Meskipun ada argumen tak berdasar dari Komandan Khalifa Haftar dan pendukungnya, PBB mengakui pemerintah yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj sebagai pemerintah Libya yang sah.
Pemerintah meluncurkan Operasi Badai Perdamaian untuk melawan serangan-serangan Haftar di ibu kota pada Maret, dan baru-baru ini berhasil mengambil alih titik-titik strategis, termasuk Tarhuna, benteng pertahanan terakhir Haftar di Libya Barat.
Pemerintah Libya mengecam dukungan militer oleh Mesir, Uni Emirat Arab, Prancis, dan Rusia atas serangan-serangan oleh milisi Haftar di Tripoli yang dimulai sejak April tahun lalu.
*Ditulis oleh Fahri Aksut