Muhammad Abdullah Azzam
11 Desember 2019•Update: 12 Desember 2019
Betül Yürük
PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa senjata yang digunakan dalam serangan di fasilitas perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco pada saat ini belum dapat dikonfirmasi milik Iran.
PBB melaporkan pihaknya telah memeriksa puing-puing rudal dan drone yang digunakan dalam serangan terhadap fasilitas Aramco dan senjata-senjata ini tidak dapat diverifikasi buatan Iran pada tahap itu.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mempresentasikan laporan kedelapan Resolusi PBB tentang perjanjian nuklir Iran no. 2231 kepada Dewan Keamanan PBB.
Bedasarkan laporan Guterres yang dihimpun Anadolu Agency, PBB telah meneliti puing-puing sistem senjata yang digunakan dalam serangan pada Mei di kota Afif, pada Juni dan Agustus di bandara internasional Abha dan pada September di fasilitas Aramco.
"PBB tak dapat verifikasi senjata tersebut melanggar resolusi PBB"
Dalam laporan itu, Guterres mengatakan PBB tidak dapat memverifikasi rudal dan drone yang digunakan dalam serangan itu adalah buatan Iran atau berlawanan dengan resolusi DK PBB nomor 2231 yang mentrasnfer senjata dengan melanggar resolusi tersebut.
Guterres menuturkan PBB terus mengumpulkan dan menganalisis informasi tambahan tentang rudal dan kendaraan udara tak berawak yang digunakan dalam serangan itu.
Dia mengatakan bahwa Houthi tidak memiliki drone semacam itu.
Guterres menjelaskan jenis kendaraan udara tanpa awak itu '' Model V9 '' yang dilengkapi dengan giroskop vertikal dan pernah digunakan di Afghanistan pada 2016.
Penyelidik PBB masih belum dapat menentukan produsen drone "Model V9" itu, ungkap Guterres.
Dua pabrik milik perusahaan minyak nasional Arab Saudi Saudi Aramco diserang pada 14 September, dan Houthi di Yaman mengklaim telah melakukan serangan itu.
Arab Saudi, sebagai pengekspor minyak terbesar di dunia, mengatakan produksi minyak negaranya sempat terpotong 5,7 juta barel per-hari akibat serangan terhadap fasilitas Aramco.
Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan itu.
Atas permintaan dari Arab Saudi, para pakar PBB telah mengunjungi Riyadh untuk menyelidiki serangan itu.