24 Juni 2026•Update: 24 Juni 2026
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sekitar 1,7 juta warga Palestina yang mengungsi, atau hampir 80 persen dari total populasi Gaza, kini hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di hampir 1.600 lokasi pengungsian dengan keterbatasan air bersih, tempat tinggal, dan layanan dasar.
Mengutip Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan penembakan artileri, tembakan senjata, pemboman, dan serangan udara masih terus membahayakan warga sipil di seluruh Jalur Gaza.
Dujarric juga menyampaikan bahwa Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mengumumkan melalui media sosial bahwa seorang remaja perempuan berusia 17 tahun yang merupakan salah satu Duta Pemuda UNICEF tewas saat dalam perjalanan mengikuti ujian sekolah menengah atas.
"Kami kembali menegaskan bahwa warga sipil, termasuk anak-anak, harus selalu dilindungi," kata Dujarric dalam konferensi pers.
Ia mengatakan hasil penilaian terbaru terhadap lokasi pengungsian menunjukkan sedikitnya 59 ribu tempat penampungan dihuni oleh lebih dari delapan orang dalam satu unit.
Selain itu, sekitar 38.500 orang dilaporkan tidur di ruang terbuka.
Menurut Dujarric, sekitar 600 ribu orang yang tinggal di lokasi pengungsian yang disurvei tidak memiliki akses memadai terhadap air minum.
Ia menambahkan bahwa setengah dari lokasi pengungsian tidak memiliki sistem drainase yang terlihat, sementara hampir separuh lokasi melaporkan adanya risiko kebakaran di sekitar tempat penampungan.
Dujarric juga melaporkan bahwa infestasi tikus ditemukan di 80 persen lokasi pengungsian, sementara saluran pembuangan terbuka dan tumpukan sampah ditemukan di lebih dari separuh lokasi.
"Di hampir 250 lokasi yang menampung sekitar 250 ribu orang, dilaporkan terdapat insiden yang melibatkan bahan peledak sisa perang," katanya.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.027 orang dan melukai 3.280 lainnya.
Gencatan senjata tersebut tercapai setelah dua tahun perang yang oleh sejumlah pihak disebut sebagai genosida dan dimulai Israel pada Oktober 2023.
Serangan itu telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 173 ribu lainnya, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza.
PBB memperkirakan biaya rekonstruksi wilayah tersebut mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.