Rhany Chairunissa Rufinaldo
30 Mei 2020•Update: 31 Mei 2020
Riyaz ul Khaliq
ANKARA
Korea Selatan menghadapi tantangan luar biasa atas langkahnya membuka kembali sekolah terbuka, terlebih saat negara itu mengalami lonjakan kasus Covid-19 baru.
Pemerintah mengatakan bahwa pada Jumat, tindakan karantina dan jarak fisik akan diberlakukan secara ketat di sekolah-sekolah sambil mempertimbangkan pembatasan jumlah siswa yang menghadiri kelas secara fisik di Seoul, lansir kantor berita Yonhap.
Korea Selatan telah mengizinkan pembukaan sekolah secara bertahap setelah ditutup sejak Maret tahun ini karena pandemi.
Hampir 3 juta siswa melanjutkan pelajaran di kelas awal pekan ini.
Wakil Menteri Pendidikan Park Baeg-beom mengumumkan sekolah dasar dan menengah akan diminta membatasi jumlah siswa menjadi sepertiga dari total keseluruhan.
Namun, laporan hari ini mengatakan beberapa sekolah ditutup karena meningkatnya kasus baru.
Sebuah perusahaan e-commerce yang berbasis di Seoul muncul sebagai cluster infeksi baru, sehingga otoritas kesehatan mengadakan operasi pelacakan kontrak massal untuk menemukan orang yang terinfeksi.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 58 kasus Covid-19 baru, meningkatkan total nasional menjadi 11.402. Sekitar 55 kasus baru adalah infeksi lokal.
Sebanyak 269 orang meninggal karena infeksi, sehingga tingkat kematian di negara itu menjadi 2,36 persen.
Lebih dari 10.000 pasien yang sepenuhnya pulih dari penyakit dibebaskan dari karantina.
Korea Selatan telah melakukan total 885.120 tes Covid-19 sejak 3 Januari.
Sementara itu, Seoul telah menyetujui remdesivir sebagai pengobatan untuk pasien Covid-19 dan otoritas kesehatan telah meminta impor obat untuk melawan virus itu.
Obat ini sedang diuji untuk Covid-19 dan telah diberikan izin penggunaan darurat oleh Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS serta Jepang.