02 Oktober 2017•Update: 02 Oktober 2017
Alyssa McMurtry
BARCELONA
Setelah proses pemilu yang bergejolak, pemungutan suara kontroversial mengenai kebebasan Catalonia ditutup pukul 20.00 hari Minggu waktu setempat. Setelah itu pun ribuan aktivis masih berada di lokasi-lokasi pemungutan suara selamat proses penghitungan suara, menjadi pembatas untuk menghalangi masuknya pasukan polisi Spanyol ke lokasi pemilu.
Lokasi-lokasi lain dilaporkan tutup lebih cepat karena takut polisi akan menganggu proses penghitungan. “Pemerintah Catalonia bersikap tidak tanggung jawab sehingga harus dibantu oleh sikap profesional pihak polisi dan pasukan keamanan,” kata Soraya Saenz de Santamaria, Wakil Perdana Menteri Spanyol dalam sebuah konferensi pers pada Minggu. Santamaria menolak mengakui referendum itu terjadi.
Dari Minggu pagi hinga sore dilaporkan 761 warga membutuhkan bantuan medis karena mengalami luka-luka terkait pemungutan suara. Pemerintah Catalonia mengatakan polisi anti huru-hara menerjang massa guna mencabut paksa bilik-bilik suara. Hampir setengah dari total korban berada di kota Barcelona.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengatakan 11 anggota polisi terluka. Dari 2.315 lokasi pemungutan suara yang direncanakan, 319 ditutup dengan paksaan polisi, menurut pemerintah Catalonia. Masalah teknis juga menjadi penghambat dan sempat menjadi isu pada Minggu pagi.
“Ini bagai mimpi, bila anda tidak melihat masalah yang terjadi bahkan anda bisa mengatakan ini pemilu normal,” kata Josep, pemilih berusia 29 tahun.
Penghitungan masih berjalan hingga kini dengan hasil yang bisa ditebak, namun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Walaupun terdapat sebagian warga yang menentang berdirinya Republik Catalonia, kebanyakan dari mereka yang menentang kemerdekaan memboikot referendum tersebut, yang dikatakan ilegal oleh pengadilan Spanyol.
“Hasilnya tidak penting, saya hanya ingin referendum terjadi dan membelanya,” kata Monte Sabat, seorang aktivis yang tidur semalaman di sebuah lokasi pemungutan suara.