Haydar Hadi
08 April 2018•Update: 09 April 2018
Haydar Hadi
BAGHDAD
Perdana Menteri Iraq Haider Al Abadi mengatakan pada Sabtu bahwa ideologi kelompok teror Daesh masih menjadi ancaman di Irak meskipun secara militer kelompok tersebut sudah bisa dikalahkan.
Menurut dia, perang darat dengan Daesh telah berakhir, menyelamatkan semua wilayah negaranya dan menguasai perbatasan dengan Suriah.
“Namun bahaya dari ideologi dan sel tidur Daesh tetap ada. Saya harus memperingatkan semua orang tentang hal itu,” kata Perdana Menteri Haider al-Abadi dalam sebuah pidato di sebuah pertemuan Partai Dawa Islam, partai yang berkuasa di Irak.
"Para pejabat Irak telah mengatakan kepada saya bahwa perang melawan Daesh mungkin memakan waktu hingga 10 tahun, tetapi kami berhasil mengatasinya dalam waktu singkat," lanjutnya.
Perdana Menteri Abadi mengatakan, Irak telah mengalami masa puncak korupsi dan kebijakan sektarian yang menyebabkan terorisme dan kekerasan.
“Kami ingin dukungan publik dalam perubahan besar ini,” katanya.
Daesh mulai kehilangan kendali atas wilayah yang dikuasainya. Pada akhir 2014, Daesh memasuki masa puncak dan menduduki dua pertiga wilayah Suriah.
Runtuhnya Raqqa, pada 17 Oktober menandai akhir organisasi teroris tersebut.
Setelah Raqqa berhasil direbut, pernyataan peringatan tentang bahaya ideologi Daesh ini banyak diungkapkan oleh pejabat, termasuk Jenderal Amerika Serikat Paul E. Funk. Kemudian Koordinator Kontra-terorisme UE Gilles de Kerchove dan Ketua Komite Militer NATO Petr Pavel.