Atila Altuntas
25 November 2022•Update: 13 Desember 2022
STOCKHOLM
Turkiye memiliki hak untuk melindungi diri dari serangan teroris, kata Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson pada Kamis.
Menanggapi pertanyaan oleh juru bicara Partai Hijau Marta Stenevi di parlemen, Kristersson mengatakan harus diakui bahwa Turkiye adalah negara yang menjadi sasaran serangan teroris dan negara tersebut memiliki hak untuk melindungi diri dari terorisme.
Kristersson mengatakan seluruh dunia memiliki alasan untuk mengakui bahwa serangan teroris yang melanda Turkiye sama buruknya bagi Turkiye seperti halnya serangan teroris lain yang melanda negara lain.
Dia menekankan bahwa Swedia seharusnya tidak menjadi tempat orang-orang berpartisipasi dan mendanai terorisme atau kegiatan terkait teroris, dan menjadikan Swedia sebagai tempat berlindung yang aman.
Pada Minggu, Turkiye meluncurkan Operasi Claw-Sword, kampanye udara lintas batas melawan kelompok teroris YPG/PKK, yang memiliki tempat persembunyian ilegal di perbatasan Irak dan Suriah.
Operasi udara itu menyusul serangan teroris di Jalan Istiklal di Istanbul yang menewaskan enam orang dan menyebabkan 81 lainnya terluka.
Pejabat Turki menekankan bahwa operasi itu sejalan dengan hukum internasional dan hak negara untuk membela diri di bawah resolusi PBB.
Dalam kampanye terornya melawan Turkiye selama lebih dari 35 tahun, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turkiye, AS, dan Uni Eropa – bertanggung jawab atas kematian lebih dari 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi.
YPG adalah cabang kelompok teroris PKK di Suriah.