19 September 2017•Update: 20 September 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Sampai tahun 2017, setidaknya 671 warga negara Indonesia (WNI) terlibat dengan kelompok teroris al-Dawla al-Islamiya al-Iraq wa al-Sham (Daesh) di Irak dan Suriah.
Jumlah itu terdiri dari 524 orang laki-laki dan 147 orang perempuan,menurut laporan polisi yang dirilis Selasa.
"Mereka disebut sebagai foreign terrorist fighters, atau FTF," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo
Wasisto saat memberikan keterangan kepada wartawan di Markas Besar Polri di Jakarta.
Polisi merinci bahwa jumlah FTF, baik laki-laki maupun perempuan yang masih hidup dan pernah terlibat dengan Daesh di Irak dan Suriah, sebanyak 343 orang serta anak-anak berjumlah 99 orang.
Sementara itu FTF dari Indonesia yang sudah tewas di Irak dan Suriah sebanyak 97 orang.
FTF Indonesia yang belum diketahui identitasnya ada 132 orang, termasuk dua diantaranya adalah anak-anak. Namun Setyo tidak menjelaskan apakah para WNI ini masih hidup atau sudah tewas.
"Dengan demikian total WNI yang terlibat dengan Daesh di Irak dan Suriah ada 671 orang," kata Setyo.
Selain itu, Densus 88 berhasil mencegah 105 WNI baik laki-laki mau pun perempuan yang berencana berangkat ke Irak dan Suriah ketika mereka masih di Indonesia.
Ada juga WNI yang dideportasi dari Turki, Malaysia, dan Singapura akibat keterlibatannya dengan Daesh yang berjumlah 534 orang, kata Setyo.
“Ada 84 WNI, pria dan wanita, yang kembali ke Indonesia (returnee),” kata dia.
Sementara ada warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia sebagai FTF sebanyak 15 orang yang semuanya laki-laki.
Setyo tidak menjelaskan apakah WNI dan WNA yang terlibat terorisme itu hanya terkait dengan Daesh saja atau terkait dengan kelompok teroris lainnya.
Pada 2014, Daesh menguasai sekitar sepertiga wilayah Irak namun pada akhir Agustus, wilayah kekuasannya hanyalah 10 persen dari total luas wilayah Irak.
Ribuan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, telah menjadi korban kekejaman kelompok teroris ini.