16 Desember 2018•Update: 16 Desember 2018
Yusuf Ozcansan and Hasan Esen
PARIS
Polisi Prancis hari Sabtu menangkap 85 pengunjuk romp kuning di Paris, Prancis, menurut laporan media setempat.
Protes Rompi Kuning, yang dimulai sebagai reaksi terhadap kenaikan pajak bahan bakar dan berubah menjadi pemberontakan melawan Presiden Prancis Emmanuel Macron, berlanjut hingga Sabtu
Sebelumnya, polisi telah menangkap lebih dari 500 demonstran pekan lalu.
Pada Kamis, Maxime Nicolle, salah satu tokoh penting dari gerakan Rompi Kuning, mengatakan mereka akan terus menggelar protes meskipun ada seruan pemerintah untuk menghentikan aksi setelah penembakan Strasbourg.
Para pengunjuk rasa berkumpul di Champs-Elysees dan Opera Square pada pekan kelima, di mana aksi protes beberapa kali memanas dan menimbulkan kericuhan.
Polisi Prancis menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang tersebar di sepanjang jalan Champs-Elysees.
Sejumlah toko dan restoran ditutup sementara jalur metro tidak berfungsi akibat protes.
Polisi mengatakan sejauh ini, sekitar 16.000 orang menghadiri protes di seluruh negeri.
Sebanyak 89.000 petugas keamanan dikerahkan untuk mengamankan jalanan di seluruh Prancis, bersama dengan 14 kendaraan militer.
Sejak 17 November, ribuan demonstran mengenakan rompi kuning dan memadati jalanan kota-kota besar Prancis untuk memprotes kenaikan pajak bahan bakar dan situasi ekonomi Prancis yang kian memburuk.
Para demonstran, yang umumnya tinggal di daerah pedesaan karena harga sewa yang tinggi di perkotaan, telah meminta Macron untuk memotong pajak bahan bakar dan meringankan kesulitan ekonomi yang mereka hadapi.
Harga bahan bakar di Prancis telah meningkat lebih dari 20 persen tahun ini.
Menurut survei baru-baru ini, 84 persen warga Prancis - kebanyakan dari kelas menengah - mendukung aksi protes itu.