Rhany Chairunissa Rufinaldo
26 November 2019•Update: 27 November 2019
Hassan Isilow
JOHANNESBURG
Presiden Afrika Selatan mengecam tingginya tingkat kekerasan di negara itu terhadap wanita dan anak-anak dan menyebut fenomena itu sangat memalukan bagi negara.
"[Kekerasan] itu bertentangan dengan nilai-nilai Afrika kami dan semua yang kami perjuangkan sebagai rakyat. Kami tumbuh diajari bahwa sebagai laki-laki dan pria, kami harus menghormati perempuan dan melindungi anak-anak," kata Cyril Ramaphosa pada peluncuran "16 Hari Aktivisme untuk Kampanye Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak-anak" di Provinsi Limpopo.
Dia mengatakan sejumlah pria di negara itu tersesat dengan menyerang wanita dan gadis kecil, padahal ketika masih anak-anak, mereka diajari untuk tidak pernah ringan tangan terhadap wanita.
"Masyarakat kita berada dalam cengkeraman kekerasan terhadap mereka yang seharusnya kita lindungi," ujar Ramaphosa.
"Saat saya berdiri di depan Anda, saya teringat kenangan tentang banyak perempuan dan anak gadis di provinsi ini dan di seluruh negeri yang menderita karena kebrutalan laki-laki," ungkap dia.
Ramaphosa juga menyebutkan sejumah insiden di mana perempuan dan gadis muda dilecehkan.
Dia mengangkat kisah Boitumelo Matsekoleng, gadis berusia enam tahun dari desa Serageng, yang tewas setelah diperkosa oleh seorang pria.
‘‘Kita teringat soal Mama Mphephu Sophie Vukeya, 59 tahun, seorang nenek dari desa Muswana, yang diperkosa dan dipukuli ketika mengumpulkan kayu bakar dan meninggal dunia di rumah sakit pada Juni," kata presiden.
Menurut statistik kejahatan tahunan yang dirilis oleh polisi Afrika Selatan pada September, lebih dari 40.000 pemerkosaan tercatat pada 2018, kira-kira satu kasus setiap 15 menit.
Statistik juga menunjukkan bahwa delapan wanita dibunuh di negara itu setiap harinya.
Ramaphosa mengatakan para penjahat yang menyerang wanita dan anak-anak sama sekali tidak menghargai kesucian hidup manusia.
“Mereka tidak melakukan diskriminasi. Yang muda diserang, seperti halnya orang tua. Anak laki-laki diperkosa dan dilecehkan, begitu juga perempuan,” tutur dia.
Presiden mengatakan Afrika Selatan bersatu dengan tema "Cukup sudah Cukup" karena benar-benar sudah cukup.
Dia menguraikan beberapa rencana yang dibuat oleh pemerintah untuk menghentikan serangan, termasuk dengan mengurangi tumpukan kasus kekerasan berbasis gender di laboratorium forensik.
Ramaphosa juga mengatakan mereka akan mengembangkan mekanisme pelacakan kasus yang akan diluncurkan pada Januari tahun depan.
Dia mengatakan bahwa pemerintah juga membentuk layanan telepon 24 jam di tingkat nasional dan provinsi, yang akan menangani pengaduan terhadap polisi dan petugas hukum untuk mengatasi masalah kekerasan berbasis gender.
“Kita tidak akan dikalahkan oleh momok ini. Kami akan mengubah ombak. Mari kita bergerak bersama, negara bertekad dan yang terpenting bersatu untuk mengakhiri kekerasan berbasis gender dan feminisme selamanya,” tambah Ramaphosa.