Muhammed Yasin Güngör
05 Agustus 2026•Update: 05 Agustus 2026
Presiden terpilih Kolombia, Abelardo de la Espriella, pada Senin mengumumkan perombakan besar-besaran korps diplomatik negaranya dengan memprioritaskan penguatan hubungan dengan Israel sekaligus memutus atau mengurangi hubungan diplomatik dengan sejumlah negara.
"Saya akan membuka kembali Kedutaan Besar Kolombia di Yerusalem," kata de la Espriella dalam sebuah pengumuman video, menepati salah satu janji utama dalam kampanye politiknya.
Pemimpin yang dikenal pro-Israel itu, dan mendapat dukungan kuat dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama kampanye, juga memerintahkan penghentian rencana pembukaan kedutaan Kolombia di Palestina. Menurutnya, kantor tersebut tidak pernah benar-benar mulai beroperasi.
Sebelumnya, Presiden Kolombia Gustavo Petro pada Oktober 2023 mengumumkan rencana pembukaan kedutaan di Kota Ramallah, Palestina.
Tutup 14 Kedutaan Demi Efisiensi
De la Espriella mengatakan pemerintahannya akan menutup 14 kedutaan besar dan sekitar 15 kantor konsulat untuk mengurangi pengeluaran birokrasi.
Pada tahap awal, kedutaan yang akan ditutup berada di Aljazair, Azerbaijan, Barbados, Kuba, Ceko, Ethiopia, Ghana, Haiti, Hungaria, Malaysia, Nikaragua, Rumania, Senegal, dan Afrika Selatan.
Meski sebagian besar penutupan tidak berarti pemutusan hubungan diplomatik secara total, ia menegaskan bahwa Kuba dan Nikaragua menjadi pengecualian.
"Dalam pemerintahan saya, tidak akan ada hubungan apa pun dengan rezim tirani," ujarnya.
Terapkan Sistem Perwakilan Regional
Untuk meningkatkan efisiensi diplomatik, Kolombia akan menerapkan sistem concurrent representation, yakni satu kedutaan besar akan menangani hubungan diplomatik dengan beberapa negara sekaligus.
De la Espriella juga menilai keberadaan perwakilan terpisah untuk organisasi internasional seperti UNESCO di Paris dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) di Roma sebagai sesuatu yang "tidak masuk akal". Ia berjanji akan menyatukannya di bawah satu duta besar.
Selain itu, pemerintahannya berencana membuka kedutaan baru di Nigeria guna memperkuat koordinasi diplomatik Kolombia di kawasan Afrika.
Petro Kecam Kebijakan Penerusnya
Di sisi lain, Presiden Kolombia yang akan segera lengser, Gustavo Petro, melontarkan kritik keras terhadap duta besar baru Israel untuk Kolombia, Vivian Aisen, sekaligus menuduh de la Espriella terlibat dalam apa yang ia sebut sebagai genosida.
Menanggapi pernyataan Aisen yang mengaku merasa terhormat atas penugasannya, Petro mempertanyakan komitmennya terhadap perjuangan hak-hak perempuan.
"Seorang ibu yang memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak akan membiarkan puluhan ribu perempuan Palestina dan anak-anak mereka dibunuh oleh rudal," tulis Petro melalui platform media sosial X.
Petro juga kembali menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah melakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan".
Selain itu, ia menuding kemenangan de la Espriella dalam pemilihan presiden diperoleh melalui manipulasi perangkat lunak milik perusahaan swasta. Menurut Petro, algoritma tertentu diubah di Los Angeles untuk menggantikan "kehendak rakyat", meski ia tidak menyertakan bukti atas klaim tersebut.