Maria Elisa Hospita
06 Oktober 2020•Update: 06 Oktober 2020
Nazir Aliyev Tayfur and Jeyhun Aliyev
BISHKEK, Kyrgyzstan/ANKARA
Para pengunjuk rasa menduduki istana presiden dan gedung parlemen di ibu kota Kyrgyzstan pada Selasa pagi.
Aksi itu digelar sebagai penolakan atas hasil pemilihan parlemen akhir pekan lalu yang diduga diwarnai kecurangan.
Pendukung 12 partai politik yang gagal melebihi ambang batas 7 persen yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum berunjuk rasa di Ala-Too Square di Bishkek.
Polisi anti huru hara menghalau 5.000 massa dengan gas air mata, meriam air, dan granat kejut.
Sejauh ini, lebih dari 100 orang dilaporkan terluka.
Sementara beberapa demonstran tetap menduduki istana presiden, sebagian massa bergerak menuju Ala-Too Square dan penjara tempat para tahanan politik ditahan.
Mereka berupaya membebaskan mantan presiden Almazbek Atambayev dari penjara.
Atambayev, yang dibawa keluar oleh demonstran diperkirakan akan berbicara kepada ribuan orang yang menunggunya di Ala-Too Square.
Pada Senin, Badan Pemilihan Umum Kyrgyzstan mengumumkan hasil resmi pemilu yang digelar sehari sebelumnya untuk memilih 120 anggota parlemen baru.
Menurut hasil awal, jumlah pemilih mencapai 55 persen dan empat dari 16 partai politik melewati ambang batas 7 persen untuk masuk parlemen, di antaranya Partai Birimdik (Unity), Partai Mekenim Kyrgyzstan (Homeland Kyrgyzstan), Partai Kyrgyzstan, dan Partai Butun Kyrgyzstan.
Ketua Parlemen Dastanbek Cumabekov dari Partai Kyrgyzstan berhasil mempertahankan kursinya, sedangkan tiga partai lainnya memasuki parlemen untuk pertama kalinya.