Riyaz ul Khaliq
15 Desember 2021•Update: 16 Desember 2021
ISTANBUL
Masyarakat Jepang pada Selasa menggelar demonstrasi menentang proyek penimbunan untuk merelokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS) ke provinsi paling selatan.
Para pengunjuk rasa menggunakan perahu dan kano untuk menyatakan penentangan mereka terhadap rencana relokasi pangkalan udara milik Angkatan Udara AS di provinsi Pulau Okinawa.
Rencana relokasi ini dimulai pada 1996 ketika Jepang dan AS setuju untuk mengembalikan tanah yang diduduki oleh angkatan udara AS di distrik Futenma menyusul kemarahan nasional atas pemerkosaan geng tahun 1995 terhadap seorang siswi berusia 12 tahun di Okinawa oleh tiga prajurit AS, lapor Kyodo News.
Menurut kesepakatan yang ditandatangani antara kedua belah pihak, pangkalan Pangkalan Udara Korps Marinir AS akan dipindahkan ke distrik Henoko di provinsi yang sama.
Provinsi Okinawa menjadi tuan rumah beberapa pangkalan AS. Proses penimbunan tanah dimulai tiga tahun lalu.
Penduduk setempat mengklaim bahwa mereka telah mengalami sejumlah insiden akibat militer AS, termasuk kebisingan, kejahatan, dan kecelakaan.
Para pengunjuk rasa memegang plakat bertuliskan “Hentikan operasi penimbunan” dan “Lindungi laut kita yang indah” dan mendayung dengan setidaknya 30 sampan ke lokasi konstruksi, mereka mendesak pihak berwenang untuk menghentikan pembangunan.
Personel Penjaga Pantai Jepang harus bergegas untuk "memblokir mereka dan menyebabkan perkelahian singkat," kata laporan media itu.
Namun, para pengunjuk rasa terus meneriakkan slogan-slogan “Hentikan pembangunan ilegal” dan “Jangan bunuh karang”.
Di tengah tentangan dari pemerintah daerah, pemerintah pusat Jepang telah merencanakan untuk membangun landasan pacu berbentuk V setelah reklamasi tanah.
Gubernur Okinawa Denny Tamaki telah memenangkan beberapa sengketa hukum melawan pemerintah pusat atas relokasi pangkalan tersebut.
Hirokazu Matsuno, kepala sekretaris kabinet pemerintah Perdana Menteri Fumio Kishida, pada Senin bersikeras bahwa "relokasi pangkalan Futenma ke Henoko adalah satu-satunya solusi."
Jika konstruksi berlangsung, diperkirakan akan memakan waktu 12 tahun bagi pangkalan udara AS untuk beroperasi penuh.