19 September 2017•Update: 19 September 2017
Ilker Girit
ISTANBUL
Sebuah lembaga riset Inggris pada Selasa mengatakan, makin banyak warga Inggris mengakses konten ekstrem terkait kelompok Daesh dibandingkan negara-negara lain di Eropa.
Laporan dari lembaga Policy Exchange ini mengatakan Inggris adalah konsumen terbesar ke-5 di dunia yang paling sering melihat konten propaganda ekstremis.
Walaupun kekuasaan kelompok teroris Daesh makin berkurang di Irak dan Suriah, mereka "terbukti bisa beradaptasi dan bertahan lama" dalam dunia daring, menurut riset tersebut.
"Banyaknya serangan teror di Inggris pada paruh pertama 2017 memastikan radikalisasi adalah ancaman yang nyata bagi keamanan nasional Inggris dan sekutu-sekutunya," jelas laporan itu.
Policy Exchange juga menyarankan agar pemerintah Inggris mengambil langkah-langkah pencegahan untuk melawan penyebaran materi-materi radikal karena Daesh "memproduksi konten ekstremis di Web dengan konsisten dengan penyebaran sangat luas".
Penelitian ini juga menemukan bahwa teroris menghubungi simpatisan mereka melalui aplikasi pesan Telegram dan menyebarkan konten melalui platform media sosial umum seperti Twitter dan Facebook.
Pemerintahan Inggris dan Prancis Juni lalu memerintahkan perusahaan-perusahaan Internet seperti Facebook dan Google untuk menindaklanjuti akun-akun media sosial yang dicurigai sebagai teroris.
Namun, lembaga itu juga mengatakan masih diperlukan upaya yang lebih banyak "untuk menurunkan konten ekstrem dari ranah umum. Jelas bahwa upaya yang sekarang belum cukup dan perlu dicari solusi baru."