Maria Elisa Hospita
13 April 2018•Update: 13 April 2018
Michael Hernandez, Betul Yuruk
WASHINGTON
Rusia meminta Dewan Keamanan PBB untuk menggelar sidang darurat di tengah adanya dugaan serangan kimia di Suriah.
Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk pertemuan dewan. "Prioritas utamanya adalah untuk menghindari bahaya perang," ujar Nebenzia.
"Prioritas kedua yaitu agar misi Organisasi Anti Senjata Kimia (The Organization for the Prohibition of Chemical Weapons/OPCW) untuk sampai ke Damaskus dan Douma, dan melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi di sana," tambah dia.
Pertemuan yang diusulkan Rusia dimaksudkan untuk mengatasi kemungkinan aksi militer AS sebagai tanggapan terhadap dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar al-Assad.
Seorang sumber dari PBB mengatakan bahwa Rusia tengah berupaya menggelar pertemuan pada Jumat.
Sebuah tim dari OPCW telah ditugaskan untuk mengkonfirmasi apakah serangan kimia terjadi, bukan siapa pelakunya. Tim itu diperkirakan akan mulai bekerja Sabtu ini.
Badan pertahanan sipil Suriah, White Helmets, menuding rezim Assad bertanggung jawab atas serangan kimia pada Sabtu malam di kota Douma, Ghouta Timur, yang menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan lainnya.
Menteri Pertahanan AS James Mattis pada Kamis mengatakan, Presiden Donald Trump belum memutuskan apakah dia akan melancarkan aksi militer di Suriah.
"Kami belum membuat keputusan untuk melancarkan serangan militer ke Suriah. Presiden belum memutuskan," kata Mattis kepada anggota Komite Layanan Bersenjata Parlemen AS.
"Pada tingkat strategis, kami mengkhawatirkan jika aksi itu nantinya ke luar dari kendali," ungkap dia.
Sebelumnya, Trump memperingatkan Rusia untuk bersiap-siap menghadapi rudal yang akan datang. "Jangan beri tahu kapan serangan ke Suriah akan terjadi. Mungkin segera atau tidak secepat itu!" tulis Trump di Twitter, pada Kamis.