Shadi Khan Saif
KABUL, Afghanistan
Sedikitnya 14 orang tewas dan sekitar 20 orang terluka dalam serangan bom bunuh diri yang menargetkan acara berkumpul para ulama di ibu kota Afghanistan, Kabul, Senin, menurut polisi.
"Keamanan yang ketat telah ditempatkan untuk perkumpulan para ulama di arena Loya Jirga ketika penyerang menyalakan bahan peledaknya di dekat jalan utama tempat acara berlangsung," kata Hashmat Stanikzai, juru bicara polisi, kepada Anadolu Agency.
Stanikzai mengatakan penyerang tunggal itu berjalan kaki ketika dia meledakkan bahan peledaknya setelah pertemuan berakhir, dan para ulama sedang dalam perjalanan pulang.
Atas kejadian tersebut, Turki mengutuk serangan itu.
"Kami mengutuk serangan teroris ini dan berharap rahmat Allah atas mereka yang kehilangan nyawa, pemulihan cepat bagi yang terluka, dan menyampaikan belasungkawa kami kepada sahabat kami pemerintah Afghanistan dan juga warga Afghanistan," kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.
Di tempat lain, PBB dan Amerika Serikat juga menyatakan mengutuk serangan itu. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, menekankan "tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan semacam itu," dan menyebut tragedi itu sebagai "pelanggaran yang jelas terhadap hukum internasional."
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan dalam sebuah pernyataan, "Serangan hari ini yang menargetkan warga sipil dan para pemimpin agama yang bekerja menuju perdamaian di Afghanistan mengekspos kebiadaban teroris dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan legitimasi yang mereka klaim ingin dipertahankan."
Taliban bantah keterlibatan
Hingga 2.000 ulama Afghanistan berkumpul dan mengeluarkan keputusan agama yang mengecam banyaknya serangan dalam beberapa bulan terakhir di negara itu.
"Serangan bunuh diri, ledakan yang menewaskan orang, menyebabkan perpecahan, pemberontakan, berbagai jenis korupsi, perampokan, penculikan dan segala jenis kekerasan dianggap sebagai dosa besar dalam Islam dan bertentangan dengan tatanan Allah Yang Maha Kuasa," kata keputusan tersebut.
Para ulama juga memperbarui seruan mereka pada Taliban untuk menghindari kekerasan dan bergabung dengan proses perdamaian Afghanistan.
Taliban sendiri membantah terlibat dalam serangan ini. Namun, di masa lalu, kelompok militan sempat menjuluki para ulama pro-pemerintah sebagai "boneka".
Sampai saat ini, belum jelas berapa banyak di antara korban tewas yang merupakan peserta pertemuan para ulama.
Seperti diketahui, sejak jatuhnya Taliban pada tahun 2001, banyak kepala provinsi dari Dewan Nasional Ulama yang pro-pemerintah (ulama atau pendeta agama) dan tokoh agama pro-pemerintah lainnya telah dibunuh di Afghanistan.
news_share_descriptionsubscription_contact

