Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 Juli 2019•Update: 05 Juli 2019
Mohammed Amin
KHARTOUM, Sudan
Negosiasi antara Dewan Transisi Militer (TMC) Sudan dan para pemimpin aksi protes soal pembentukan badan pemerintahan baru kembali berlangsung pada Rabu, setelah lebih dari satu bulan mengalami kebuntuan
Perkembangan ini terjadi setelah perselisihan antara kedua pihak memanas pasca tewasnya sejumlah demonstran di luar markas militer di Khartoum pada 3 Juni.
Keputusan TMC akhir bulan lalu untuk menerima proposal yang diajukan oleh Uni Afrika dan Ethiopia tentang pembagian kekuasaan dengan oposisi juga membawa perkembangan baik bagi perselisihan.
Kedua pihak akan melanjutkan pembicaraan tentang masalah pembagian kekuasaan antara warga sipil dan militer, termasuk pembentukan pemerintahan transisi, dewan menteri dan dewan kedaulatan yang dipimpin warga sipil.
Aliansi oposisi Pasukan Kebebasan dan Perubahan (FFC) sepakat untuk melanjutkan kembali perundingan dengan syarat bahwa mereka akan bertahan tidak lebih dari tiga hari.
FFC juga meminta pemerintah untuk membebaskan tahanan politik.
Mereka menekankan pentingnya penyelidikan independen terhadap pembunuhan para pengunjuk rasa.
Sudan dilanda kekacauan sejak April, ketika militer Sudan menggulingkan Presiden Omar al-Bashir yang telah berkuasa selama 30 tahun.