Yildiz Aktas
24 Februari 2018•Update: 25 Februari 2018
Yildiz Aktas
ANKARA
Seorang anggota parlemen Turki pada Jumat mengatakan kelompok teroris Daesh dan PKK sama-sama mengeksploitasi anak-anak untuk melakukan teror.
Menurut Wakil Ketua Komite HAM parlemen sekaligus Anggota Parlemen Keadilan dan Pembangunan (AK) Fatma Benli, di antara teroris PYD/PKK yang ditemukan tewas selama Operasi Ranting Zaitun di barat laut Suriah, banyak yang merupakan anak di bawah umur.
Dia mengatakan kepada Anadolu Agency, anak-anak tersebut bergabung dengan kelompok teroris tidak secara sukarela, melainkan diculik dari keluarga.
“Tidak ada perbedaan antara Daesh yang menggunakan anak-anak sebagai pelaku bom bunuh diri dengan PKK yang melakukan serangan terorisme terhadap Turki menggunakan anak-anak bersenjata,” tambah dia.
PKK yang diakui sebagai kelompok teroris oleh AS, Uni Eropa, dan Turki telah mengambil 40 ribu orang selama 30 tahun untuk melakukan tindakan terorisme. PKK adalah cabang teroris Suriah dan menjadi target operasi Ranting Zaitun di seberang perbatasan Turki di barat laut Suriah.
Benli menambahkan, Turki memerangi terorisme bukan hanya untuk mengamankan wilayah perbatasan, tetapi juga wilayah tetangga.
“Turki sebagai anggota NATO juga mempertahankan perbatasan selatan NATO,” ujar dia.
Benli juga mengatakan bahwa Turki berusaha untuk membantu lebih dari 3,5 juta warga Suriah yang sekarang berlindung di Turki kembali ke rumah di Suriah dalam kedamaian dan keamanan.
“Dengan operasi di Afrin, orang-orang dari daerah tersebut yang selama ini berlindung ke Turki bisa kembali dengan aman ke rumah mereka,” tambah dia.
Keamanan Regional
Turki menjadi negara yang terbanyak menampung warga Suriah di dunia, dengan 3,4 juta pengungsi, menurut PBB.
Turki juga telah mengeluarkan anggaran USD 30 miliar untuk mengatasi krisis pengungsi Suriah sejak 2011.
Benli mengatakan bahwa lebih dari 100 ribu orang Suriah kembali ke rumah mereka setelah operasi Perisai Euphrates Turki selesai Maret tahun lalu.
“Setelah operasi (Ranting Zaitun) ini, orang-orang Suriah juga akan kembali ke rumah mereka,” tambah dia.
Operasi Perisai Euphrates dilangsungkan pada Agustus 2016 dan berakhir Maret 2017 untuk memperbaiki keamanan, mendukung pasukan koalisi, serta menghilangkan ancaman teror di sepanjang perbatasan Turki.
Setelah operasi tersebut, sekitar 2000 km persegi wilayah terbebas dari teroris dan berubah menjadi zona aman bagi warga.
“Menyelamantakn Afrin dari teroris akan menjadi penyelamatan bagi orang-orang Suriah yang kembali ke rumah mereka dan anak-anak yang dieksploitasi PKK,” imbuh Benli.
Pada 20 Januari, Turki meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membersihkan teroris YPG/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah barat laut.
Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut serta untuk melindungi orang-orang Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.
Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas wilayah Suriah.