Muhammad Abdullah Azzam
15 Juni 2020•Update: 16 Juni 2020
Sena Guler, Talha Yavuz
ANKARA
Turki akan melanjutkan pembicaraan dengan Rusia agar tercapainya kesepakatan gencatan senjata permanen di Libya, kata menteri luar negeri negara itu pada Senin.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin "setuju untuk terus bekerja sama membangun gencatan senjata yang permanen di Libya," ungkap Mevlut Cavusoglu pada konferensi pers bersama sejawatnya dari Iran, Javad Zarif, yang sedang mengunjungi Istanbul, kota metropolitan Turki.
Pemerintah Libya, yang mendapat pengakuan dari PBB, diserang oleh pasukan Jenderal Khalifa Haftar sejak April 2019, dengan lebih dari 1.000 tewas akibat insiden kekerasan.
Setelah melancarkan serangan balasan pada Maret, tentara Libya baru-baru ini membebaskan lokasi-lokasi strategis dari pasukan Haftar, termasuk pangkalan udara Al-Watiya dan Tarhuna, yang dipandang sebagai pukulan keras bagi pasukan Haftar.
Kedatangan Menlu Iran Zarif ke Istanbul adalah kunjungan yang pertama seorang pejabat menteri luar negeri selama pandemi.
Penerbangan Turki-Iran dilanjutkan 1 Agustus
Turki dan Iran berencana melanjutkan penerbangan langsung antara kedua negara pada 1 Agustus setelah ditangguhkan selama berbulan-bulan akibat wabah Covid-19, ungkap Cavusoglu.
“Kami telah membuka perbatasan. Kami akan terus mengusahakan untuk membuka jalur udara dan darat [untuk transportasi umum],” tambah dia.
Menanggapi ketidakstabilan di wilayah Turki dan Iran akibat terorisme, Cavusoglu mengatakan, “ada kegiatan terorisme di wilayah kami. Terorisme adalah musuh kita semua.”
Dia menambahkan bahwa kedua negara perlu meningkatkan kerja sama memerangi terorisme.
Menlu Iran Zarif berterima kasih kepada Turki atas bantuannya kepada Iran dalam memerangi pandemi.
Zarif menceritakan bagaimana Iran menjadi salah satu negara yang paling awal terdampak Covid-19.
Dia mengatakan negaranya berusaha mengatasi wabah dengan kekuatan nasional serta bantuan dari teman-temannya di wilayah tersebut.
“Pandemi ini menunjukkan bahwa negara-negara saling bergantung satu sama lain, dan kebijakan sepihak bukanlah solusi,” tutur dia.
Sebelum konferensi pers, kedua menlu menandatangani MoU perjanjian diplomatik.