27 Juli 2017•Update: 28 Juli 2017
Satuk Bugra Kutlugun
ANKARA
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki mengecam keras pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel mengomentaari perkataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan soal Masjid Al-Aqsa.
Dalam sebuah pernyataan tertulis, Huseyin Muftuoglu mengutuk Menlu Israel Emmanuel Nahshon yang "sombong" terhadap Erdogan dengan menyebut Presiden Turki tersebut "delusional" dan "terdistorsi".
"Selama Palestina di Era Ottoman, orang-orang yang berbeda agama dan sekte mampu hidup damai selama ratusan tahun dan menjalankan keyakinannya dengan bebas," kata Muftuoglu. "Dalam konteks ini, orang-orang Yahudilah yang seharusnya paling tahu dan menghargai toleransi yang tak tertandingi pada era Ottoman."
Lebih lanjut Muftuoglu mengatakan, yang justru "segera" dilakukan Israel adalah "kembali ke status quo di Al-Aqsa" dan "melepaskan semua hambatan dalam kebebasan beribadah".
Pada hari Selasa, Presiden Erdogan mengkritik tindakan pemerintah Israel terhadap Masjid Al-Aqsa, sebagai tempat suci umat Islam dan mewakili situs tersuci ketiga di dunia Islam setelah kota Mekah dan Madinah.
Erdogan mendorong kaum muslim untuk memainkan peranannya dalam melindungi Masjid al-Aqsa.
”Ketika tentara Israel secara sembarangan mencemari lantai-lantai al-Aqsa dengan sepatu tempur mereka, dengan menggunakan isu-isu sepele sebagai dalih dan kemudian dengan mudah menumpahkan darah di sana, alasannya (mereka mampu melakukan itu) dan kita (Muslim) belum berbuat banyak untuk mempertaruhkan klaim kami atas Yerusalem,” sambungnya.
Nahshon menanggapi pernyataan Erdogan pada hari yang sama, dengan menyebut ucapan presiden "delusional" dan "terdistorsi".
"Hari-hari Kekaisaran Ottoman sudah berakhir. Ibukota orang-orang Yahudi adalah dan akan selalu menjadi Yerusalem. Berbeda dengan masa lalu, ini adalah kota dimana pemerintah berkomitmen terhadap keamanan, kebebasan, kebebasan beribadah, dan menghormati hak semua minoritas," kata Nahshon, seperti dilansir Anadolu Agency pada Rabu (26/7).
Kemarahan telah menyebar hingga Tepi Barat sejak pekan lalu setelah Israel menutup al-Aqsa di Jerusalem Timur - situs suci bagi umat Muslim dan Yahudi, yang disebut sebagai Bukit Bait Suci – menyusul baku tembak 14 Juli.
3 Warga Palestina tewas dalam aksi protes melawan kebijakan Israel. 3 Warga Israel juga tewas dalam serangan di permukiman di Tepi Barat.
Setelah mendapat kecaman dan tekanan internasional, kabinet keamanan Israel memutuskan untuk memindahkan detektor logam pada Senin malam. Pernyataan yang dirilis setelah pertemuan kabinet menyebutkan sistem penjagaan baru dengan teknologi canggih “smart-check” akan dipasang.