17 Oktober 2017•Update: 18 Oktober 2017
ISTANBUL
Dewan Eropa sejak Senin telah menghentikan kontak dengan militer Myanmar karena aksi kekerasan terhadap warga Rohingya.
Langkah tersebut dilakukan setelah sebelumnya Uni Eropa membatasi penjualan senjata dan peralatan ke militer Myanmar yang diduga telah menggelar operasi pembersihan etnis atas kelompok minoritas.
Dalam pernyataan yang dirilis Senin, Dewan Eropa mengatakan: "Dengan adanya aksi kekerasan yang dilakukan oleh pasukan keamanan, Uni Eropa dan negara-negara anggota akan menghentikan kontak dengan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Myanmar dan pejabat militer senior lainnya dan meninjau seluru kerja sama pertahanan.
Dewan Eropa juga mengatakan akan memberlakukan langkah lain jika situasi tak kunjung membaik.
Menurut PBB, sejak 25 Agustus, sebanyak 536.000 orang Rohingya telah mengungsi dari negara bagian Rakhine ke Bangladesh.
Juru bicara HAM PBB, pada Jumat, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pengungsi Rohingya menginginkan perlindungan dari pasukan penjaga perdamaian.
Rupert Colville berkata, "dibutuhkan solusi dari masyarakat internasional, baik dari Dewan Keamanan PBB, satu negara, atau apa pun, untuk menyelesaikan krisis Rohingya, dan satu-satunya solusi yang memungkinkan adalah dengan memperbolehkan warga Rohingya kembali ke rumahnya".