17 Oktober 2017•Update: 17 Oktober 2017
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Presiden Donald Trump, Senin, mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan memihak pihak mana pun dalam konflik antara pemerintah Irak dengan Pemerintah Regional Kurdistan (KRG).
Trump mengatakan kepada pers di Gedung Putih bahwa AS memiliki hubungan baik dengan Kurdi, namun juga sudah menjalin hubungan yang erat dengan Irak selama bertahun-tahun lamanya.
Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS lewat sebuah pernyataan mendesak presiden Baghdad dan KRG untuk mengkoordinasikan aktivitas militer dan mengembalikan perdamaian: "Kami mendesak semua pihak untuk menghindari provokasi yang dapat dimanfaatkan oleh musuh Irak yang berniat untuk memperparah konflik etnis dan sektarian".
"Secara khusus, kami melihat bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk mengalahkan ISIS di Irak, sementara konflik dengan Kurdi justru mengalihkan perhatian dari misi utama ini," jelas pernyataan tersebut merujuk kepada perjuangan melawan ISIS atau Daesh.
Dalam pernyataan juga disebutkan bahwa AS bekerja sama dengan pejabat pemerintah pusat dan regional untuk mengurangi ketegangan, menghindari konflik lebih lanjut, dan mendorong dialog: "AS akan terus mendampingi mitra kami Irak untuk mengalahkan Daesh".
Konflik antara Erbil dan Baghdad dipicu oleh referendum Kurdi yang digelar di wilayah kekuasaan KRG pada 25 September.
Referendum tidak sah tersebut telah mendapat kecaman dari pihak regional mau pun internasional, termasuk AS, Turki, dan Iran, karena dikhawatirkan akan mengganggu perjuangan melawan terorisme dan memicu destabilisasi di wilayah tersebut.