Tufan Aktas, Addis Getachew
05 Januari 2018•Update: 05 Januari 2018
Tufan Aktas, Addis Getachew
ADDIS ABABA, Ethiopia
Konflik di sepanjang perbatasan wilayah Oromia dan Somalia di Ethiopia diperkirakan dapat memisahkan sebanyak 14.000 anak-anak dari keluarga mereka, kata UNICEF.
Sepanjang tahun lalu, bentrokan antara dua komunitas di perbatasan dua wilayah tersebut telah menyebabkan ratusan orang tewas dan puluhan ribu orang mengungsi.
"Diperkirakan ada 84.659 anak usia sekolah dasar yang terkena dampak konflik saat ini tidak memiliki akses terhadap layanan pendidikan di Oromia dan Somalia," kata UNICEF lewat sebuah pernyataan, Jumat.
Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan bahwa 120.000 anak di bawah usia 5 tahun dan 20.000 wanita hamil dan menyusui tengah membutuhkan asupan gizi darurat.
UNICEF mengatakan bahwa dibutuhkan USD 2,9 juta untuk pendidikan anak-anak usia sekolah dasar. Sementara USD 2,6 juta lainnya dibutuhkan untuk kebutuhan gizi khusus anak-anak pengungsi di bawah usia 5 tahun dan 2.400 wanita hamil dan menyusui.
Selain itu, USD 2,9 juta juga dibutuhkan untuk vaksin, obat darurat, logistik dan alat-alat teknis kesehatan bagi pengungsi.
"Pada Desember 2017, situasi keamanan keseluruhan di sepanjang perbatasan kedua wilayah ini masih tidak stabil dan tidak dapat diprediksi," jelas UNICEF.
Selama dua tahun terakhir, aksi protes anti-pemerintah di Oromia dan Amhara, serta bentrokan antar etnis di sepanjang perbatasan wilayah Somali dan Oromia menjadi tantangan terbesar yang harus diatasi oleh pemerintah Ethiopia.
Aksi protes tersebut menuntut kebebasan politik dan ekuitas ekonomi di Ethiopia, di mana korupsi dan despotisme merajalela.
Dua hari yang lalu, Perdana Menteri Ethiopia Hailemariam Desalegn mengatakan bahwa pemerintahnya akan membebaskan beberapa politisi dan tokoh yang telah menjalani hukuman penjara atau menjalani persidangan "untuk memperluas ruang politik".