Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 Desember 2018•Update: 04 Desember 2018
Andrew Wasike
KATOWICE, Polandia
Seorang delegasi dari kelompok Afrika yang mengikuti konferensi iklim internasional di Katowice, Polandia pada Senin, mengatakan bahwa warga Afrika mengharapkan aksi yang nyata pada perubahan iklim.
Konferensi yang diadakan di jantung negara penghasil batu bara itu mempertemukan para aktivis lingkungan, ilmuwan, pejabat pemerintah dan kepala negara.
Fatou Ndege Gaye, mantan menteri lingkungan Gambia, berjanji untuk mendorong perubahan dengan tindakan untuk memerangi perubahan iklim di Afrika yang paling menderita, meskipun memiliki emisi paling sedikit.
“Kami, sebagai orang Afrika, melakukannya dengan baik dan para delegasi yang telah dikirim ke sini akan memastikan bahwa kami akan mendapatkan dukungan keuangan. Yang kita butuhkan adalah sumber daya dan itu membutuhkan uang,” kata Gaye kepada Anadolu Agency.
Gaye merujuk pada komitmen yang telah dibuat dalam konferensi iklim di Paris oleh negara-negara maju dan kaya untuk meningkatkan pembiayaan hingga USD100 miliar pada 2020 untuk membantu negara-negara berkembang dalam memerangi perubahan iklim.
“Sangat lucu bahwa kami mengadakan pertemuan puncak di Polandia, yang keterlibatannya dalam ekonomi karbon sangat tinggi karena ketergantungannya pada batu bara. Saya hadir untuk melihat apakah mereka mau beralih ke energi terbarukan, memimpin dengan memberi contoh,” ungkap Ramero Anthony, seorang aktivis lingkungan dari Mozambik.
'Paling rentan' terhadap perubahan iklim
Menteri Luar Negeri Ekuador Maria Fernanda Espinosa, yang juga menjabat sebagai ketua Majelis Umum PBB, meminta negara-negara maju untuk meningkatkan dan mengubah komitmen menjadi tindakan.
Berbicara kepada Anadolu Agency, dia mengakui bahwa Afrika adalah benua yang paling rentan, meskipun merupakan penyumbang terkecil terhadap peningkatan emisi CO2.
Espinosa mengatakan Afrika adalah benua yang paling rentan dalam hal perubahan iklim, jadi Afrika harus berada di jantung pusat pendanaan iklim.
"Kami menghadapi tantangan untuk memperoleh dana iklim hijau yang baru saja dijanjikan dan kami sangat berharap negara-negara lain bisa mencontoh Jerman yang telah berkomitmen untuk memberikan dana,” katanya.
Ketua Majelis Umum PBB juga memuji kelompok Afrika yang hadir di konferensi itu karena telah memperjuangkan masa depan benua mereka.
“Saya telah menghadiri konferensi iklim selama sekitar 15 hingga 20 tahun. Saya tidak melebih-lebihkan, saya melihat para delegasi Afrika bekerja siang dan malam dan sangat berkomitmen pada benua mereka," tambahnya.
Wilayah Afrika Timur dilanda kekeringan, disebut sebagai yang terburuk dalam 60 tahun, menyebabkan orang-orang mengalami krisis pangan.
Sementara itu, Afrika Utara menderita banjir dan dampak perubahan iklim lainnya.
Bank Pembangunan Afrika dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa mereka telah menghadiri konferensi untuk membela kepentingan benua tersebut.