Levent Tok, Mohamad Misto and Selen Temizer
AFRIN, Suriah/ANKARA
Di tengah kemajuan pesat pasukan Turki dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) melawan teroris di Afrin, barat laut Suriah, teroris YPG/PKK secara paksa menghalangi warga sipil Suriah untuk meninggalkan daerah tersebut.
Pada 20 Januari lalu, Turki meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris YPG/PKK dan Daesh dari Afrin, barat laut Suriah, dekat bagian selatan perbatasan Turki.
Menurut informasi yang dikumpulkan Anadolu Agency dari sumber terpercaya di Afrin, para teroris menggunakan kekuatan untuk menghentikan penduduk Suriah di Afrin agar tidak meninggalkan distrik tersebut, bahkan mereka sampai menggunakan tembakan.
Warga sipil yang berusaha pergi ke selatan untuk menghindar, digunakan sebagai tameng oleh para teroris, dan dihentikan oleh teroris YPG/PKK di pos pemeriksaan saat hendak meninggalkan pusat kota.
Sejumlah warga sipil tersebut berupaya untuk menuju Nubul, sebuah kota di Aleppo yang berada di bawah kendali rezim Assad dan pasukan yang didukung oleh Iran.
Pos pemeriksaan di selatan Afrin meminta dukungan tambahan dari markas teroris untuk memberi tekanan lebih pada warga sipil, sebuah tanda bahwa kelompok teror tersebut hampir kehilangan kendali di pusat distrik tersebut.
Drone tentara Turki rekam penyerangan YPG/PKK terhadap warga sipil
Rekaman yang diambil oleh sebuah drone milik tentara Turki menunjukkan konvoi kendaraan sipil yang ingin meninggalkan Afrin di sebuah pos pemeriksaan YPG/PKK.
Teroris terlihat melepaskan tembakan pada warga sipil untuk mencegah mereka.
Setelah sempat bubar, warga sipil bergabung kembali karena para teroris diperkuat dengan minibus putih.
Menutup jalan dengan minibus tersebut, para teroris bersenjata keluar dari kendaraan dan mulai berdebat dengan warga sipil.
Mengambil keuntungan dari keributan itu, seorang warga sipil mencoba menyelinap melewati barikade, namun dia terlihat dan dihentikan.
Rekaman drone juga memperlihatkan seorang wanita dengan bayi di gendongannya bersama seorang anak di sampingnya.
Perempuan itu juga gagal meski telah membujuk para teroris untuk mengizinkan mereka keluar dari Afrin.
YPG/PKK izinkan warga sipil bergabung lawan Turki
Di sisi lain, teroris YPG/PKK mengizinkan beberapa warga sipil meninggalkan pusat distrik dengan biaya sekitar USD1.000 per orang dengan syarat mereka pergi ke daerah-daerah yang berada dalam wilayah pergerakan Angkatan Bersenjata Turki (TSK) dan FSA.
Beberapa kendaraan yang membawa penduduk sipil tersebut menuju Tell Rifaat dan bagian selatan Afrin.
Berencana untuk memperlambat operasi yang dipimpin Turki di Afrin melalui warga sipil, para teroris masih menghalangi warga meninggalkan distrik secara keseluruhan.
Menurut informasi yang diperoleh Anadolu Agency dari sumber-sumber lokal di Hasakah, kelompok teror YPG/PKK mencari anggota baru distrik Hasakah dan Kamishli, yang merupakan daerah pendudukan YPG/PKK di timur laut Suriah, untuk berperang melawan tentara Turki dan FSA di Afrin.
Kelompok teror tersebut menjanjikan upah besar untuk mereka yang mau dikirim ke Afrin.
Mengalami kesulitan merekrut anggota, YPG/PKK berupaya merekrut mereka yang bekerja sebagai “pegawai negeri” yang memiliki gaji sekitar USD150 per bulan dengan menawarkan upah lebih, yakni sebesar USD400.
Dengan taktik itu, kelompok tersebut berhasil mengirim hampir 100 orang dari Hasakah ke Afrin pada Minggu.
Petinggi meninggalkan Afrin
Sumber tersebut juga membenarkan bahwa pemimpin dan anggota kelompok teror tersebut yang datang ke Afrin dari Gunung Qandil -- markas teroris PKK -- telah meninggalkan distrik tersebut melalui Nubul.
Anggota teror dari Qandil melarikan diri dari Afrin untuk menghindari kemungkinan tentara Turki dan FSA menutup jalan ke Aleppo saat mereka menuju timur Afrin sebagai bagian dari operasi yang sedang berlangsung.
Rezim Assad menghasilkan hampir USD1.000 dari setiap teroris ketika mengizinkan kelompok teror tersebut menyeberangi Sungai Eufrat ke wilayah Afrin.
Sementara itu, melalui pengeras suara di pusat Afrin, kelompok tersebut mengumumkan, "Turki berbohong. Jangan takut. Kafr Jana dan Qatmah adalah milik kita. Kami tidak dan tidak akan pernah membiarkannya."
Pada hari Sabtu, Said Ismet Gubar, yang dianggap sebagai menteri keadilan di distrik yang diduduki oleh kelompok teror YPG/PKK, melarikan diri dari Afrin, sementara Hasan Bayram, yang dianggap sebagai menteri dalam negeri, gagal melarikan diri setelah ditangkap oleh anggota kelompok tersebut.
Staf Umum Turki menyatakan bahwa Operasi Ranting Zaitun bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut, juga untuk melindungi masyarakat Suriah dari tekanan dan kekejaman teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah, kata pernyataan tersebut.
Pihak militer juga memastikan bahwa "sangat penting" supaya operasi tidak membahayakan warga sipil.