İqbal Musyaffa
03 Agustus 2018•Update: 04 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo seusai shalat Jumat di Jakarta, mengatakan bahwa hingga Juli belum terlihat dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap inflasi.
BPS melansir data inflasi Juli sebesar 0,28 persen month to month dan 3,18 persen year on year (yoy) sehingga angka inflasi masih terjaga dalam kisaran yang ditetapkan pemerintah sebesar 3,5 plus minus 1 persen sepanjang tahun.
Akan tetapi, dalam data BPS disebut inflasi inti pada Juli sebesar 0,41 juga bukan karena rupiah yang masih melemah terhadap dolar.
“Inflasi inti itu karena ada kenaikan biaya sekolah dan perguruan tinggi. Jadi karena faktor musiman,” ujar Perry.
Terkait pelemahan rupiah, Perry yakin para pengusaha baik eksportir ataupun importir sudah melakukan antisipasi berupa lindung nilai sehingga tidak akan terlalu berpengaruh pada inflasi impor.
Perry menjelaskan, ada tiga hal yang membuat inflasi masih terjaga baik.
Pertama adalah ekspektasi inflasi terjangkar ataupun terproyeksi dengan baik. Kedua, ekonomi Indonesia masih beroperasi di bawah kapasitas nasional.
Pertumbuhan ekonomik pada triwulan I tahun ini sebesar 5,06 persen dan pada triwulan II yang akan diumumkan BPS pada tangga 6 mendatang menurut dia diperkirakan sebesar 5,15 persen.
“Itupun masih di bawah kapasitas output nasional jadi tekanan inflasi dari permintaan masih rendah,” jelas dia.
Faktor ketiga yang membuat inflasi terjaga lanjut Perry, adalah tidak adanya tekanan terhadap nilai tukar yang besar dalam beberapa tahun terakhir.