İqbal Musyaffa
29 Desember 2017•Update: 30 Desember 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia akan terus menempuh posisi kebijakan moneter yang terukur dan sesuai dengan upaya menjaga inflasi dalam kisaran yang disasar serta mengendalikan defisit transaksi berjalanpada tingkat yang aman.
BI menargetkan defisit transaksi berjalan Indonesia dapat terjaga di bawah 2 persen hingga 2022 mendatang serta inflasi dapat terus bertahan pada level rendah di kisaran 3 persen.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan arah kebijakan BI akan memperkuat operasi moneter untuk memberikan ruang fleksibilitas pengelolaan likuiditas bank.
“Selanjutnya, BI akan membantu terjaganya stabilitas suku bunga pasar uang,” ujar Mirza, kamis.
Mirza menambahkan, BI juga selalu berupaya melakukan pendalaman pasar keuangan melalui penguatan regulasi, kelembagaan, infrastruktur, serta pengembangan instrumen jangka pendek dan lindung nilai valuta asing sesuai kebutuhan pasar.
Bank sentral, menurut Mirza, juga terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar sesuai dengan nilai fundamentalnya, namun tetap mendukung bekerjanya mekanisme pasar.
BI juga mendorong pengurangan ketergantungan pada mata uang tertentu seperi Dollar AS sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,
“BI akan memperkuat kerja sama bilateral untuk meningkatkan penyelesaian transaksi perdagangan bilateral menggunakan local currency settlement (LCS),” ujar Mirza.
Penggunaan mata uang lokal dalam setiap transaksi bilateral dengan negara yang sudah bekerja sama menurut Mirza akan difasilitasi oleh bank sentral seperti bilateral currency swap agreement (BCSA) dan skema LCS berbasis Appointed Cross Currency Dealers (ACCD) yang melibatkan peran otoritas dan sektor swasta.
Hingga saat ini, BI sudah menjalin kerja sama LCS dengan Malaysia dan Thailand.
Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan Indonesia kini bisa menggunakan Rupiah dan Baht dalam setiap transaksi perdagangan dengan Thailand. Begitupun dengan Malaysia juga bisa menggunakan Rupiah dan Ringgit.
“17 bank sudah disepakati untuk melakukan transaksi LCS dengan ketiga negara. Tahun depan kami fokus mengurangi penggunaan Dollar AS,” lanjut dia.
Implementasi LCS akan difokuskan untuk meningkatkan volume perdagangan ketiga negara serta untuk pendalaman pasar keuangan.
Selain dengan Malaysia dan Thailand, Perry mengatakan BI saat ini sedang berkomunikasi dengan Filipina, Tiongkok, dan Jepang untuk bekerja sama penerapan LCS sehingga Indonesia bisa tidak terlalu bergantung dengan Dollar AS.