İqbal Musyaffa
08 Mei 2019•Update: 08 Mei 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah berada pada zona merah sepanjang perdagangan hari ini. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG berada pada level 6.270,2 atau terkoreksi o,43 persen.
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan posisi IHSG saat ini lebih disebabkan oleh pasar yang tengah bersikap wait and see menunggu perkembangan terbaru dari negosiasi perdagangan antara AS dan China.
Sebagaimana diketahui, pada hari Minggu lalu Trump menuliskan melalui Twitter untuk menaikkan pajak impor dari 10 persen menjadi 25 persen untuk produk-produk asal China yang bernilai USD200 miliar.
Amerika juga telah menetapkan bea 25 persen atas tambahan impor China bernilai USD50 miliar. Sementara China juga menerapkan denda atas barang-barang asal AS bernilai USD110 miliar.
Trump menuliskan di akun sosial medianya, kenaikan pajak impor tersebut akan berlaku pada Jumat mendatang.
“Ini yang dikhawatirkan, IHSG akan terus berada di zona merah sebagaimana bursa Asia lainnya hingga Jumat menanti keputusan Trump tersebut,” ujar Reza, kepada Anadolu Agency, Rabu.
Reza mengatakan pelaku pasar kemungkinan akan memanfaatkan kondisi ketidakpastian ini untuk melakukan aksi jual yang bisa semakin menekan posisi dari IHSG saat ini.
“Kalau investor melakukan panic selling, maka yang terjadi akan menekan harga saham dan indeks secara keseluruhan,” imbuh Reza.
Dia menambahkan kondisi seperti ini juga bisa merembet kepada kondisi nilai tukar rupiah yang saat ini berada pada posisi Rp14.290 di pasar spot atau melemah 11 persen dari posisi penutupan pada hari sebelumnya.